Saturday , 7 December 2019
Home » Headline » Kaki-Kaki Ilmu dan Peradaban  

Kaki-Kaki Ilmu dan Peradaban  

Oleh: Fathorrahman* (Penulis adalah Dosen Universitas Pamulang)

 

Ilmu dan peradaban senantiasa bertalian erat dalam kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Keduanya memiliki pijakan historis yang berbeda satu sama lain. Ilmu berkembang beranak pinak hanya karena ia dilemahkan oleh teorima baru yang lebih sempurna.

Fathorrahman Fadli

Ilmu tidak pernah mengepalkan tangannya sebagai yang paling sempurna. Ia selalu bersikap terbuka terhadap segala sesuatu yang baru dan yang menyempurnakan. Oleh karena itulah ilmu itu lantas tak pernah berhenti bergerak linear bersamaan dengan semakin canggihnya otak manusia, dari zaman ke zaman.

Ilmu pula yang tidak pernah puas kepada dunia yang selalu baru dn berkembang pula. Karena itu pula seorang yang merasa dirinya berilmu dan berpengetahuan, secara moral tidak boleh, bahkan dilarang untuk merasa dirinya paling benar dan orang lain adalah salah.

Orang yang demikian sejatinya golongan manusia pemabuk, yang menjadikan dirinya sebagai batara tunggal kebenaran semu. Orang jenis ini harus dikasihani, karena sejatinya ia belum tercerahkan. Manusia jenis itu tak pantas kita masukkan golongan orang-orang yang oleh Ali Syariati disebut sebagai Ulul Albab itu.

Orang jenis ini sangat tidak mungkin menjadi penyangga-penyangga peradaban. Sebab peradaban bukanlah sebatas kepintaran semata. Kepintaran hanya berbasis pada pikiran yang logis tanpa harus memiliki tanggungjawab untuk memikul moralitas yang baik. Kepintaran itu adalah sesuatu yang  monolitik, oleh sebab itu biasanyaatau kerakali  orang pintar itu selalu berteman dengan kesombongan. Lebih-lebih jika mereka tidak mendapat rahmat Allah.

Mengapa? Karena kepintaran itu adalah sesuatu yang tidak bertanggungjawab atas apa yang seharusnya secara moral dituntut menyajikan kebaikan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga sering kita lihat dalam pergaulan sehari-hari kita menyaksikan perilaku orang yang tidak beradab meskipun secara ilmu mereka sudah lepas dari periode kebodohan. Kondisi seperti ini adalah anomali yang menyedihkan.

Menyedihkan; karena ia tidak bisa dibilang bodoh, sebab pada penampakan luarnya mereka hebat dan  terpelajar. Juga menyedihkan karena ia belum sampai pada derajat ilmu yang mencerahkan.

Walhasil, seseorang yang berilmu itu wajiblah ditemani dengan keimanan yang lurus kepada Allah. Hal itu penting agar ilmu yang dimilikinya atau menempel di otaknya itu adalah ilmu yang disertai rahmat Allah. Rahmat Allah akan menuntun jalan kehidupan manusia agar selalu bijak dalam berpendapat, berpikir, dan bertindak atas manusia dan lingkungan dimana dia berpijak. Bukankah alquran sering berpesan bahwa ilmu yang manusia miliki itu hanya sedikit sekali, illa qolila.

Lalu pantaskah kita harus menepuk dada bahwa kita adalah orang hebat, selalu benar, dan tak peduli dengan kebenaran orang lain yang juga sedikit. Bukankah sesuatu yang besar dalam dunia ini adalah gabungan dari yang sedikit dengan yang juga sedikit. Masih ingatkah kita dengan pepatah, “Sedikit-demi-sedikit, lama-lama-menjadi bukit”.

Walhasil, kesombongan adalah kebodohan baru yang tidak beradab. Alquran melarang umat manusia berlaku congkak atau sombong saat berjalan dibatas bumi ini. Kesombongan karena merasa paling berilmu sesungguhnya bentuk kedunguan  baru yang membutuhkan belas kasihan.

Allah berfirman dalam alquran, “Janganlah kamu berjalan di atas bumi dengan sombong”.

Pentingnya Kaki Ilmu

Dalam diskursuf pemikiran sufistik, kaum sufi membicarakan dengan sangat serius posisi ilmu bagi manusia dan kemanusiaan. Mereka berusaha mendudukkan ilmu itu dalam bingkai yang sangat esoterik. Mereka ingin ilmu itu memiliki baju keimanan dan hikmah sehingga ilmu itu hadir ke tengah=tengah manusia dengan penuh damai, mencerahkan, dan menuntun jalan hidup manusia kearah kebajikan dan bukan kerusakan.  Ilmu mereka dedikasikan untuk membuat manusia mengerti tentang dirinya, Tuhannya dan alam semesta.

Ilmu kerap dipandang dan dimaknai sebagai cahaya. “Al-ilmu nurun, ilmu itu cahaya. Ilmu yang lurus selalu dipahami dan dihayati sebagai pengantar hikmah. Bulan sekadar kepintaran yang norak dan tak mampu membawa maslahah bagi manusia.

Artinya dalam ilmu itu sendiri  kehadirannya harus  mc  dilengkapi dengan moral dan hikmah agar ilmu tersebut mampu memancarkan cahaya. Jika tidak maka Ilmu itu akan berjumpa dan bersahabat dengan kesombongan dan prilaku tiranik. Oleh karena itu, ilmu haruslah memiliki kaki-kaki yang kuat menghunjam jauh didasar kesadaran spiritualistik manusia; yakni moralitas dan hikmah.

* (Penulis adalah Dosen Universitas Pamulang)