Saturday , 28 March 2020
Home » Ekonomi » Jabar Selatan Jadi Titik Fokus Pariwisata

Jabar Selatan Jadi Titik Fokus Pariwisata

(jabartoday.com/net)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Sebenarnya, Jabar memiliki potensi, dan daya saing ekonomi yang luar biasa. Salah satu potensi serta kekuatan ekonomi tatar Pasundan terdapat pada sektor pariwisata, baik wisata religi, kuliner, fashion, maupun alam.

Sejauh ini, masih banyak kawasan bumi Parahyangan yang belum tersentuh, utamanya, Jabar Selatan. Padahal, kawasan-kawasan Jabar Selatan punya daya pikat pariwisata yang seksi apabila penggarapannya optimal. “”Karena itu, tahun depan, kami fokus menggarap dan mengoptimalkan potensi Jabar Selatan sebagai destinasi andalan pariwisata,” tandas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, Ida Hernida, pada media gathering bersama Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jabar di Hotel Prama Grand Preanger, Jalan Asia Afrika Bandung, belum lama ini.

Ida mencetuskan, pada 2018, ada banyak titik Jabar Selatan yang pihaknya jadikan daerah tujuan wisata andalan. Terlebih, ujarnya, ketersediaan sarana dan prasarana konektivitas pun cukup menunjang.

Adanya beberapa proyek infrastruktur, tuturnya, seperti tol dan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, konektivitas wisatawan asing atau domestik makin mudah. Itu, imbuhnya, mempercepat konektivitas dengan jalur selatan.

Ida mengutarakan, Bumi Pasundan, utamahya, wilayah selatan, memiliki banyak destinasi wisata alam. Saat ini, katamya, Jabar Selatan memiliki 147 pantai wisata. Namun, lanjutnya, baru sekutar 50 persennya yang dapat menjadi destinasi. Sisanya, jelasnya, masih kawasan konservasi.

Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jabar, Mahtal Hadiat, berpendapat, Jabar Selatan memang menjadi alternatif bagi wisatawan. Ini terjadi karena tingkat traffic lalu lintas yang tergolong tinggi. Hal itu, tukasnya, membuat banyak wisatawan asing yang mengubah rute perjalanan wisatanya.

Pada sisi lain, Mahtal menilai wisatawan asing yang datang ke Bandung berada pada titik jenuh. “Perlu adanya terobosan. Misalnya, menawarkan destinasi wisata alternatif lain,” tutup Mahtal. (win)