Indonesia Krisis Ahli Epidemiolog

Plt Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Prof. Dr. Agus Purwadianto. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)
Plt Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Prof. Dr. Agus Purwadianto. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Indonesia kekurangan ahli epidemiolog. Berdasarkan data, Indonesia baru memiliki 357 ahli dari yang dibutuhkan sebesar 568 ahli belum ditambah 9.510 asisten ahli. Menurut Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Prof. Dr. Agus Purwadianto, idealnya tiap provinsi memiliki 2 ahli, kabupaten/kota 1 ahli, dan 1 asisten ahli di puskesmas tiap kecamatan.

“Dengan perkembangan yang ada, seperti ebola, jumlahnya harus lebih banyak,” tukas Agus di sela Pertemuan Ilmiah Epidemiologi Nasional ke-4 di Hotel Horison Bandung, Rabu (1/10/2014).

Kebutuhan ahli epidemiologi sangat mendesak mengingat dalam 20 tahun terakhir Indonesia mengalami dua pandemi, yakni SARS dan flu burung, yang merugikan secara ekonomi dan nyawa. Terkendalinya kedua pandemi tersebut, berkat penerapan pendekatan epidemiologi di tingkat global, regional, nasional, dan lokal. Kemampuan deteksi dini penyakit menular mutlak diperlukan agar pandemi dapat dicegah.

“Dalam pembangunan kesehatan di tanah air, pendekatan epidemiolog juga digunakan untuk mendeteksi dan menyelesaikan berbagai masalah kesehatan, seperti peningkatan kejadian gizi buruk,” sambung Agus.

Kekurangan ahli epidemiolog, diakui Agus, tidak lepas dari belum adanya reward bagi para pelaku bidang tersebut. Namun saat ini, papar Agus, pihaknya sudah mulai menggiatkan ilmu ini di seluruh universitas di Indonesia. Sekarang baru 2 universitas yang memiliki konsentrasi di bidang tersebut, yakni Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat dr. Alma Lucyati menyebut, di Jabar baru 30% kabupaten/kota yang memiliki ahli epidemiolog atau sekitar 9 orang. Namun, Alma berkilah, pihaknya tidak kekurangan ahli yang dapat memberikan data soal penyakit menular tersebut. “Sekarang kita lagi menggalakkan ke masyarakat soal pentingnya ahli epidemiolog. Termasuk dengan memberikan reward kepada mereka,” urai Alma. (VIL)

Related posts