
Beberapa pedagang dan perajin pernak-pernik Imlek mengaku sempat khawatir penjualan produknya kurang laris. Itu karena, mereka menyiapkannya dalam volume besar. Terlebih, pada 2015, situasi ekonomi Indonesia kurang baik sebagai efek global, yang berakibat terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dampaknya, pertumbuhan ekonomi nasional melambat.
Namun, faktanya, produk-produk dan pernak-pernik Imlek masih diburu.
“Kami bersyukur, produk dan pernak-pernik Imlek tetap laris. Meski begitu, penjualan tidak seramai dua tahun lalu. Sejak 2013, penjualan. Malah, tahun lalu, turun. Mungkin, tahun lalu, daya beli turun ya?” tandas seorang pedagang di kawasan Jalan Cibadak, Ogi.
Ogi mengemukakan, di antara sejumlah produk dan pernak-pernik Imlek, komoditi yang paling diminati dan diburu konsumen adalah lampion. Dia mengatakan, penjualan lampion mencapai 50 persen total penjualan produk dan pernak-pernik Imlek.
TIngginya penjualan lampion diakui Budi, pengelola sebuah toko di Cibadak lainnya, yang total omzet penjualannya, sekitar Rp 800 ribu per hari. Secara rata-rata, kata Budi, harga jual lampion sekitar Rp 85-150 ribu per unit. Bahkan, sambungnya, ada pula harga lampion yang mencapai Rp 600 ribu per unit. “Produk lainnya, harganya variatif. Seperti, bunga sakura, sekitar Rp 250-500 ribu, amplop angpao isi 4-6 helai sekitar Rp 6-12 ribu, dan gantungan petasan sejumlah Rp 30-75 ribu,” paparnya. (ADR)




