Friday , 13 December 2019
Home » Opini » Hari-Hari Mencekam (2)

Hari-Hari Mencekam (2)

Oleh Komaruddin Rachmat

Hubungan kekerabatan itu jualah akhirnya yang menyelamatkan anggota PKI di desa kami dari pembersihan pasca peristiwa G30S/PKI, karena data-data keanggotaan PKI mereka dibakar oleh H Skr sebelum RPKAD datang. H Skr adalah aktifis pemuda Anshor yang ikut mengganyang PKI, dan ayah saya membiarkan pembakaran tersebut.

Sejak pawai obor jalan kaki PKI menjelang hari ulang tahunnya pada 5 Mei 1965 melintas desa, saya merasakan kondisi desa semakin mencekam.

Hal tersebut saya rasakan, pertama: Jalan Raya Daendlers (sekarang Jalan Raya Bekasi) di depan rumah kami rusak sangat parahnya. Mobil-mobil berjalan sangat lambat, sering terjadi penjarahan di malam hari. Kedua, kemiskinan sudah sangat parah, rakyat makan bulgur,  keluarga kami tidak memakannya, tapi saya pernah mencobanya mendapatkan dari teman main.

Bulgur adalah makanan ampas gandum yang rasanya saya sudah lupa. Jangan kaget di desa kami ketika itu orang bisa menukar sebidang tanahnya dengan beberapa karung beras saja hanya untuk makan keluarganya.

Ketiga, ketegangan antara ayah saya dengan anggota-anggota PKI semakin nyata. Hal tersebut saya rasakan karena sering ngejaplak (nguping ilegal), yaitu ketika ayah saya berkumpul dan mengobrol dengan teman-temannya di rumah kami, dimana  saya sering diminta untuk membeli rokok.

Hampir setiap malam rumah kami didatangi teman-teman ayah saya hanya sekedar untuk berbincang-bincang. Pada tengah malam mereka meminta pembantu untuk menggoreng nasi,waktu itu belum banyak jajanan seperti saat ini.

Saya ingat ketika itu di bulan puasa, saya, adik saya dan teman-teman sedang bermain petasan di depan rumah sambil menunggu waktu berbuka. Ketika tiba-tiba petasan kami dirampas oleh beberapa orang pemuda rakyat anggota PKI, saya menangis. Ayah saya keluar sambil menenteng stand gun. Pemuda-pemuda itu lari. Tapi ayah saya tidak mengejarnya.

Tidak lama dari hari itu, tiba-tiba di depan rumah kami di seberang jalan terdengar petasan yang dibakar oleh beberapa orang desa yang kami kenal dalam waktu yang lama, seperti bunyi petasannya tidak akan  berhenti. Ayah keluar rumah dan meletuskan pistolnya beberapa kali ke udara. Langsung petasan berhenti dan masa bubar.

Masih teringat, saat saya dan teman-teman sedang bermain di teras rumah.  Tiba-tiba tembok rumah kami dicoretin oleh anak-anak muda yang saya mengenalnya. Tulisan tersebut antara lain yang saya ingat adalah “Orang Kaya Baru (OKB)”.

Ditulis dengan cat atau kapur. Ayah tidak menanyakan siapa yang melakukannya. Mungkin sudah maklum. Begitulah ketegangan saya sebagai anak kecil yang berumur 11 tahun saat itu.

Di desa kami ada anggota PGT  (Pasukan Gerak Cepat)  Angkatan udara, bernama Ags,  yg ketika itu penduduk takut kepadanya. Sering bergaya di depan rumah kami sambil menenteng senapan AK 47.

Tapi Ayah saya dan teman2nya tidak melayaninya.Ags adalah orang Jawa Timur menikah dengan penduduk desa kami. Terakhir ada rumor di kalangan penduduk desa, bahwa pada 1 Oktober 1965 pagi, Ags pulang dari arah kampung Pedaengan dengan rangsel berlumuran darah. Sebelah selatan kampung Pedaengan agak jauh, adalah pondok gede tempat para jenderal diculik dan dibunuh.

Sejak beberapa kejadian di atas, ayah menyediakan alat-alat musik seperti gitar, kendang, kecrek untuk saya bermain agar tidak keluar rumah. Setiap malam kami mainkan alat musik tersebut dengan kebisaan seadanya. Di antara teman-teman saya ada yang umurnya lebih besar, dialah biasanya yang selalu mengarahkan apa yang kami mainkan dan nyanyikan.

Kami main musik tersebut  di halaman depan rumah hampir setiap malam. Perlu dimaklumi rumah keluarga saya adalah lumayan besar, berbeda dengan rumah-rumah lainnya dikampung kami ketika itu, dengan lokasi di pinggir  Jalan Raya Bekasi sekarang. Luas bangunan 600m dan halaman yang luas serta kebun di belakangnya. Secara keseluruhan, luas  tanah minimal 6000 m2.

Rumah kami dijaga oleh centEng, yaitu abang ipar ayah. Saya memanggilnya “baba muram muhram“, selalu siap dengan pistol coltnya yang diberikan ayah pada temannya bernama “Danapi” yang selalu menyangkil senapan L E dipunggung. []