H-14, Pebisnis Bayarkan THR

Dedy Widjaja
Deddy Widjaja

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Seperti momen-momen Idul Fitri selama ini, berdasarkan peraturan, para pekerja memperoleh hak untuk mendapatkan tunjangan hari raya (THR). Regulasi menyatakan, para pemberi kerja atau perusahaan-perusahaan, berkewajiban membayarkan THR pada H-7 Idul Fitri. Akan tetapi, momen Idul Fitri tahun ini, para pelaku usaha yang tergabung dalam DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jabar seiap membayarkan THR kepada para pekerjanya satu pekan lebih cepat daripada tahun-tahun lalu.

Ketua DPD APINDO Jabar, Deddy Widjaja, mengutarakan, Menteri Tenaga Kerja, M Hanif Dhakiri, melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.04/MEN/1994 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja di Perusahaan, mengimbau para pengusaha untuk memenuhi kewajibannya membayarkan THR kepada para pekerja maksimal pada H-14. “Tapi, tanpa anjuran menteri pun, kami selalu membayarkan THR. Bahkan, tahun ini, mayoritas industri, khususnya, di Jabar, berencana untuk membayarkan THR satu pekan lebih awal daripada sebelum-sebelumnya, yaitu H-14,” tandas Deddy, Rabu (10/6).

Dijelaskan, pemberian THR lebih awal itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, hal itu berkaitan dengan ketersediaan dan stok produk yang menumpuk. Menurutnya, menumpuknya stok barang dan produk yang tersimpan pada gudang-gudang itu karena kondisi dan daya serap pasar yang rendah. Akibatnya, sambung dia, beragam produk mengalami penumpukan. “Jadi, industri harus stop produksi sementara. Caranya, meliburkan para pekerja. Artinya, tahun ini, industri meliburkan para pekerjanya lebih lama daripada biasanya,” jelas Deddy.

Biasanya, kata Deddy, para pekerja menjalani libur Idul Fitri selama dua pekan. Yaitu, jelasnya, satu pekan pra-Idul Fitri dan satu pekan pasca Idul Fitri. Adanya perkembangan industri tersebut, kemungkinan besar, libur pekerja menjadi satu bulan. “Liburnya mulai H-14 dan kembali bekerja H+14,” ucap Deddy.

Mengenai tingkat penyerapan pasar yang rendah, Deddy menuturkan, kondisi itu sebagai akibat pelemahan ekonomi nasional. Situasi tersebut, imbuhnya, ditambah oleh adanya kenaikan harga beragam komoditi sebagai efek fluktuatifnya bahan bakar minyak (BBM), naiknya tarif dasar listrik (TDL), termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang lemah. Perkembangan-perkembangan itu, ujar Deddy, membuat permintaan drop signifikan.

Deddy menyatakan dropnya permintaan paling besar yaitu pada sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Mayoritas, ungkapnya, saat ini, penjualan komoditi TPT anjlok drastis. Perkiraannya, tukas dia, dapat mencapai 50 persen lebih rendah daripada tahun lalu. “Memang, biasanya, momen Idul Fitri adalah masa panen. Tapi, saya kira, apabila memperhatikan kondisi ekonomi terkini, kemungkinan, penjualan tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya mengingat daya beli masyarakat yang lemah,” papar Deddy.

Tidak hanya sektor TPT, sambung Deddy, beberapa industri lain pun mengalami kondisi yang sama, meski relatif lebih kecil. Perkiraannya, seru Deddy, anjloknya penjualan produk non-TPT sekitar 20-30 persen. Meski begitu, sergah dia, harapannya, momen Idul Fitri dapat menongkrak penjualan. (ADR)

Related posts