Thursday , 2 April 2020
Home » Ekonomi » Ekonomi Jabar Berharap Pada Menteri Baru

Ekonomi Jabar Berharap Pada Menteri Baru

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG – – Belum lama ini, komposisi pemerintahan mengalami perubahan. Presiden Republik Indonesia (RI) ke-7, Joko Widodo, melakukan reshufflekabinet. Adanya perubahan tersebut memberi harapan bagi perekonomian nasional, termasuk Jabar.

 
“Harapannya, para pemangku jabatan baru tersebut menerbitkan atau melakukan beragam langkah kongkret dan strategis. Itu demi memperbaiki perekonomian nasional, yang saat ini, cenderung merosot,” tandas Ketua DPD Asosias Pengusaha Indonesia (APINDO) Jabar, Dedy Widjaja, Kamis (13/8).
 
Dedy mengemukakan, salah satu harapan terjadinya perbaikan ekonomi adalah terpilihnya mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution, sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, yang menggantikan Sofyan Jalil. “Beliau (Darmin Nasution. RED) punya pengalaman dalam bidang ekonomi. Jadi, kami berharap, ada perbaikan sejumlah permasalahan moneter saat ini, utamanya, berkaitan dengan nilai tukar rupiah,” papar Dedy.
 
Selain Darmin Nasution, Dedy melanjutkan, para pelaku usaha pun berharap Menteri Perdagangan yang baru, Thomas Limbong, yang menggantikan Rahmat Gobel, mampu melahirkan sejumlah kebijakan strategis berkenaan dengan sektor perdagangan, baik domestik maupun internasional. Dedy mengaku mengenal Thomas Limbong secara baik. Menurutnya, sebagai pengusaha muda, Thomas, yang mendapat penghargaan World Economic Forum sebagai Young Global Leader, punya semanat tinggi. Dedy meyakini bahwa Thomas memiliki skema dan pola kepempmpinan efektif.
 
Selain itu, katanya, Thomas pun punya peluang berkoordinasi dengan berbagai pihak secara baik. Itu karena, jelasnya, menjabat Menteri Perdagangan harus punya kapasitas berkoordinasi baik. Pasalnya, jelas dia, permasalahan perdagangan merupakan antarsektor. “Jadi, sulit apabila permasalahan itu hanya ditangani Kementerian Perdagangan. Artinya, perlu koordinasi dengan sektor lain,” ucapnya.
 
Dedy mencontohkan kondisi perdagingan sapi saat ini. Kemudian, naiknya harga jual cabai. Dia berpandangan, dua permasalahan itu bukan hanya menjadi persoalan Kementerian Perdagangan, melainkan pihak atau lembaga lain. Umpamanya, masalah cabai, juga menjadi masalah Kementerian Pertanian.
 
Terpisah, Ketua Kadin Jabar, Agung Suryamal Soetisno, juga punya harapan sama. Dia menyatakan, para menteri baru, utamanya, yang berkaitan dengan ekonomi, dapat segera melakukan sejumlah langkah kongkret dan strategis guna mengatasi berbagai permasalahan ekonomi saat ini.
 
Agung menuturkan, saat ini, kondisi perekonomian nasional cukup mengkhawatirkan. Dikatakan, saat ini, tidak sedikit industri skala besar yang kinerja penjualannya merosot. Umumnya, melemah 20 persen lebih.
 
Jika memperhatikan perkembangan nilai tukar rupiah, saat ini, menembus Rp 13.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Tentunya, ucap Agung, situasi itu membuat cadangan devisa tidak aman. Belum lagi masalah penyerapan anggaran yang mandeg. Pendeknya tim ekonomi do Kabinet Kerja harus segera bergerak memperbaiki keadaan,” katanya.
 
Tidak itu saja, perkembangan ekonomi global pun dapat berpengaruh. Adanya rencana Bank Sentral AS menaikan suku bunga pada September tahun ini pun bisa menjadi sebuah ujian. Seandainya tim eknomi yang saat ini tidak dapat menyikapi dan mengatasi efek kebijakan Bank Sentral AS, Agung berpendapat, sebaiknya, presiden perlu melakukan reshuffle berikutnya. Hal itu, sahut Agung, agar pemerintahan sekarang punya tim ekonomi yang lebih kuat.
 
Ketua Kadin Kota Bandung,  Deden Y. Hidayat, pihaknya tidak dapat memberi penilaian kepada para menteri yang baru. Dasarnya, terang Deden, setiap menteri punya visi berbeda dalam membawa perubahan. “Karenanya, tunggu saja perkembangannya. tapi, setidaknya, , reshuffle membawa harapan baru bagi dunia usaha,” tutup Deden. (ADR)