Home » Headline » Dien Syamsudin: Putusan MK Mengusik Rasa Keadilan Saya

Dien Syamsudin: Putusan MK Mengusik Rasa Keadilan Saya

Prof. Dr. Dien Syamsudin, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah

JABARTODAY.COM-JAKARTA. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak gugatan Pasangan Prabowo-Sandi mengusik rasa keadilan publik, termasuk mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Die  Syamsudin. Selengkapnhya, berikut pernyataan resmi Dien Syamsudin:

Atas Banyak Pertanyaan
SIKAP SAYA TERHADAP KEPUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI
M. Din Syamsuddin
_Bismillahirrahmanirrahim_
Memang pilihan tersedia bagi rakyat warga negara yg taat konstitusi adalah menerima Keputusan Mahkamah Konstitusi sebagai produk hukum. Itu adalah sikap taat hukum.
Karena para hakim Mahkamah Konstitusi juga terikat amanat konstitusi dan nilai moral utk menegakkan kejujuran dan keadilan, maka rakyat berhak utk menilai mereka apakah telah mengemban amanat dengan benar, yakni menegakkan kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Ini adalah sikap moral.
Jika rakyat meyakini ada pengabaian nilai moral, bahwa para hakim Mahkamah Konstitusi itu patut diduga membenarkan yg salah dan menyalahkan yg benar, seperti membenarkan kecurangan, maka rakyat mempunyai hak dan kewajiban melakukan koreksi moral.
Seperti banyak rakyat, saya pun merasakan demikian. Rasa keadilan saya terusik. Saya tidak mampu dan tidak mau menyembunyikannya. Saya merasa ada rona ketakjujuran dan ketakadilan dalam proses pengadilan di Mahkamah Konstitusi. Banyak fakta dan dalil hukum yg terkesan tidak didalami. Maka bagi rakyat jadikan itu semua sebagai catatan bahwa ada cacat moral yg terwarisi dalam kehidupan bangsa, dan ada masalah dalam kepemimpinan negara. Selebihnya kita menyerahkan sepenuh urusan kepada Allah SWT, _Ahkam al-Hakimin_, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Adil.
Jalan yg terbaik, di samping menghormati Keputusan Mahkamah Konstitusi sebagai produk hukum, demi literasi bangsa kaum intelektual melakukan eksaminasi terhadap Keputusan Mahkamah Konstitusi, dan rakyat dapat terus melakukan koreksi moral agar bangsa tidak terjatuh ke titik nadir dari _moral banckrupty_ atau kebangkutan moral. Dan itu semua tetap dilakukan secara makruf dengan senantiasa memelihara persaudaraan kebangsaan.
Perjuangan menegakkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran tidak boleh ada titik berhenti.
_Hasbunallahu wa ni’mal wakil, wa ni’man nashir_