Dari Persepsi Publik, Ridwan Kamil Miliki Elektabilitas Tertinggi

JABARTODAY.COM – BANDUNG Meski masih satu tahun lagi, bursa calon gubernur Jawa Barat sudah semakin ramai, mengingat tidak ada sosok petahana di pemilihan mendatang. Berdasarkan hasil survei persepsi publik dari Indonesia Strategic Institute (Instrat), Ridwan Kamil memiliki elektabilitas tinggi untuk memenangi Pemilihan Gubernur Jabar 2018.

Dari data yang ada, Wali Kota Bandung tersebut memperoleh 35,1 persen suara. Disusul, Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar dengan 17,4 persen, dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dengan 10,9 persen.

Direktur Instrat Jalu Priambodo mengatakan, sumber suara paling besar Ridwan Kamil diperoleh dari kawasan Priangan, yakni Bandung ke wilayah selatan. “Survei kami sudah sesuai proporsi penduduk di masyarakat Jawa Barat. Sumber suara Ridwan Kamil berasal dari wilayah Priangan dimana jumlah penduduk lebih besar dari wilayah lain,” ungkap Jalu, dalam Diskusi Publik “Masa Depan Panggung Kepemimpinan Jawa Barat, di Hotel Mitra, Senin (16/1).

Belum lagi ditambah banyaknya pemberitaan yang ada terkait kiprahnya sebagai wali kota, makin mempengaruhi elektabilitasnya. Apalagi, dirinya berasal dari keluarga yang memiliki pesantren di Tasikmalaya, membuat pengaruhnya makin besar di Bandung Raya.

Sementara, Deddy Mizwar memiliki dukungan yang cukup tinggi dari daerah Pantura, Bogor, dan Sukabumi. Publik di daerah itu merasa puas dengan kinerja Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar. “Sebagai petahana, Deddy dinilai cukup berhasil. Belum lagi modal popularitas yang besar dan sosok berpengalaman, meskipun sebagai artis,” papar Jalu.

Namun begitu, Jalu menerangkan, tantangan terbesar bagi Demiz adalah dukungan partai politik. Pasalnya, Demiz bukanlah seorang kader parpol, sama halnya dengan Emil. Hanya saja, kepopulerannya sebagai artis tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sementara itu, Dedi Mulyadi, dinilai Jalu, sudah mulai mendapat perhatian dari khalayak. Namun dengan tampilannya akan mempengaruhi elektabilitasnya, karena tidak semua daerah di Jawa Barat seratus persen kesundaan. “Tidak semua masyarakat di Jawa Barat seratus persen masyarakat yang kesundaan. Sehingga jangan sampai pendekatan yang dilakukan salah, dimana akhirnya tidak mendapat dukungan. Terutama di daerah Pantura kurang terlihat kesundaannya,” urai Jalu. (vil)

Related posts