Butuh Dana Awal Rp 50 Miliar, Pindad Siap Produksi Eskavator

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Publik Jabar, khususnya, Kota Bandung, wajib berbangga karena memiliki beberapa industri strategis milik BUMN. Satu di antaranya, adalah PT Pindad (Persero).

Sejauh ini, PT Pindad sukses memproduksi berbagai produk alat angkut dan sistem pertahanan (alutsista) berkualitas. Sebut saja, Panser Anoa, yang digunakan pasukan perdamaian PBB. Produk berkualitas lainnya, yaitu sejumlah senjata. Buktinya, beberapa waktu silam, Tim Menembah TNI sukses menyabet gelar juara berkat menggunakan senjata produk PT Pindad.

Kini, PT Pindad mengembangkan sayap dan kemampuan produksinya. Lembaga BUMN tersebut siap memproduksi eskavator. “Untuk eskavator, Menteri Perindustrian meminta kami supaya mempercepat produksi dan sertifikasi SNI. Itu siap kami lakukan dan upayakan,” tandas Direktur Utama PT Pindad, Sylmi Karim, di PT Pindad, pada sela-sela kunjungan Menteri Negara Badan Usaha Minil Negara (BUMN), Rini Soemarno, ke PT Pindad, Jalan Gatotsubroto Bandung, belum lama ini.

Sylmi menegaskan, untuk memproduksi eskavator, pihaknya memerlukan dana investasi awal yang tidak sedikit. Sylmi berpendapat, setidaknya, untuk dana awal produksi eskavator, pihaknya membutuhkan dana Rp 50 miliar.

Diutarakan, sebenarnya, untuk memproduksi eskavator, pihaknya sudah memiliki sejumlah fasiltias. Di antaranya, pembuatannya tidak jauh berbeda dengan crane untuk kapal. Selain itu, lanjutnya, pihaknya pun berpengalaman dalam memproduksi tank. “Contohnya, eskavator membutuhkan rantai. Kami sudah produksi tank. Jadi, saya kira, tidak terlalu menjadi masalah. Artinya, kami berpemikiran, memproduksi eskavator tidak terlalu sulit,” ucap Sylmi.

Pihaknya, jelas dia, memproyeksikan merebut 10 persen market share eskavator. Apabila total market share eskavator sebanyak 7.500 unit per tahun, terang Sylmi, pihaknya menargetkan produksi sebanyak 750 unit per tahun. Akhir tahun ini, cetus Sylmi, pihaknya siap mengawali proses produksi eskavator.

Namun, tegasnya, produksi eskavator bukan berarti tanpa tantangan. Sylmi berpandangan, hal yang menjadi tantangan berkenaan dengan eskavator adalah kualitas produk. Kemudian, sambung dia, bagaimana kualitas pelayanan purna jual. “Yang tidak kalah pentingnya, adalah competitiveness. Itu semua terus kami kaji agar memperoleh hasil yang optimal,” seru Sylmi.

Mengenai penggunaan komponen lokal, Sylmi menyatakan, pihaknya menggunakan mayoritas local content dalam memproduksi eskavator. Perkiraannya, jelas dia, local content mencapai 60 persen. “Ada beberapa yang masih impor, utamanya, mesin,” tutup Sylmi.  (ADR)

Related posts