
Apabila pengoperasilan BIJB, yang rencananya, pada 2018 terealisasi, tatar Pasundan memiliki 2 bandara internasional, selain yang hingga kini beroperasi, Bandara Husein Sastranegara. Direktur Angkasa Pura II, Budi Karya Sumadi, menilai Bandara Husein Sastranrgara tetap punya peran penting.
“Bandara Husein Sastranegara hingga kini punya peran strategis. Selain pintu Jabar, bandara ini pun berkontribusi pada jumlah penumpang. Husein adalah bandara ketiga terbesar di antara 13 bandara manajemen PT Angkasa Pura II,” tandas Budi. Karenanya, sambung Budi, meski Jabar segera memiliki BIJB di Majalengka, peran Bandara Husein Sastranegara tetap penting.
Keberadannya, lanjut dia, bersinergi dengan BIJB. Terlebih, tegas Budi, saat ini, Husein Sastranehara adalah percontohan dalam hal upaya mengangkat kearifan lokal. Budi menandaskan, pihaknya siap terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar.
Itu, jelasnya, supaya eksistrnsi Bandara Husein Sastranegara dan BIJB berjalan beriringan dan saling melengkapi. Ilustrasinya, terang Budi, untuk keberangkatan haji dan umroh, pihaknya mengarahkannya ke BIJB. Itu membuat, tambahnya, ada pembagian jelas di antara kedua bandara tersebut.
Untuk penerbangan tertentu, imbuhnya, titik keberangkatan dan kedatangan frekuensinya lebih banyaj di Bandara Husein Sastranegara daripada BIJB. “Umpamanya, penerbangan komersial ke Yogyakarta. Jika calon penumpang harus bertolak dari BIJB, tentunya kurang efektif dan efisien dalam hal sisi waktu,” paparnya.
Menurutnya, pentingnya peran Bandara Husein Sastranegara juga karena Jabar, utamanya Bandung, punya sejunlah keunggulan dan menjadi sangat menarik jika menjadi salah satu destinasi pariwisata internasional di Indonesia.
Antara lain, sebutnya, jumlah penduduk yang cukup banyak, kearifan lokalnya yang luar biasa. Hal itu terlihat pada eksistensi budaya dan seni masyarakat setempat yang tampil di Bandara Husein Sastranegara. “Bahkan, untuk menghibur para penumpang, Husein mendatangkan Saung Angklung Udjo,” pungkas Budi. (ADR)




