Baru 25 Persen Pekerja Konstruksi yang Bersertifikat

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Segera bergulirnya agenda kerjasama ekonomi negara-negara ASEAN alias ASEAN Economic Community (AEC) pada akhir 2015,  membuat persaingan kian ketat. Ketatnya persaingan itu tidak hanya terjadi pada produk barang, tetapi juga sumber daya manusia (SDM).

Karenanya, agar SDM di negara ini, khususnya, Jabar, utamanya Kota Bandung, termasuk dalam bidang jasa konstruksi, dapat lebih berdaya saing, perlu adanya sertifikasi. Sejauh ini, di Kota Bandung, terdapat sekitar 2 juta pekerja konstruksi. “Tapi, baru sekitar 25 persen atau 500 ribu orang yang bersertifikasi,” tandas Kepala Pusat Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum, Masrianto, belum lama ini.

Melihat kondisi itu, Masrianto menyatakan, perlu adanya berbagai upaya untuk meningkatkan kompetensi para tenaga jasa konstruksi. Satu di antaranya, tuturnya, berupa pelatihan-pelatihan agar mereka dapat mengantungi sertifikat keterampilan konstruksi. “Tentunya, sertifikasi keterampilan yang setara di ASEAN. Sertifikasi itu dapat membuka peluang para tenaga kerja konstruksi Indonesia untuk bersaing dengan tenaga-tenaga jasa konstruksi asal negara-negara ASEAN lainnya,” papar Masriadi.

Salah satunya pelatihan bagi tenaga-tenaga jasa konstruksi, ungkap dia, yaitu Program Setara atau Sekolah Tukang Semen Tiga Roda. Program tersebut, ucap dia, adalah aktivitas bersama antara Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan PT Indocement. Diutarakan, bersama perguruan tinggi, lembaga-lembaga yang berkaitan, dan kalangan swasta, pemerintah mencoba memfasilitasi sertifikasi tersebut.

Direktur PT Indocement, Daniel Kundjono, menambahkan, pelatihan Setara adalah sebuah upaya meningkatkan kemampuan dan wawasan para tenaga konstruksi sehingga punya kesetaraan dengan  tenaga terampil. “Dalam pelatihan selama tiga hari itu, para tukang mendapat pelatihan tentang regulasi jasa konstruksi, praktik keselamatan, dan kesehatan kerja (K3),” terang Daniel.

Kepala LPJK Deddy Rudiana, mengimbuhkan, pemberian program sertifikasi ini melibatkan berbagai pihak. Antara lain, ucap Deddy, perguruan tinggi, pemerintah, dan swasta. Menurutnya, ini merupakan langkah ideal untuk mempercepat program sertifikasi profesi para tenaga jasa konstruksi.   (ADR)

Related posts