Apindo Cermati Perkembangan American First

jabartoday.com/net
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Pasca menggantikan posisi Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menerbitkan sejumlah kebijakan yang dianggap banyak kalangan sebagai hal kontroversial. Pasalnya, sejumlah kebijakan Trump itu mendapat reaksi dan pertentangan publik, tidak hanya negeri Paman Sam, tetapi juga negara lainnya.
Salah satunya adalah American First, sebuah kebijakan sektor ekonomi berupa pembatasan peredaran produk-produk impor. Adanya kebijakan ini, tidak tertutup kemungkinan, membuat negara-negara yang selama ini menjadikan AS sebagai tujuan ekspor, semisal Tiongkok, mengalihkan pasar ekspornya ke negara-negara lain, tidak terkecuali Indonesia. Efeknya, Indonesia berpotensi dibanjiri produk impor.
Ketua Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jabar, Dedy Widjaja, berpendapat, American First  terbit karena AS lebih menginginkan kerjasama ekonomi bersifat bilateral. “Saya melihatnya begitu (bilateral),” tandas Dedy, Kamis (2/2).
Menurutnya, sejumlah kebijakan di AS itu tidak hanya berdampak pada kondisi dalam negerinya, tetapi juga berpotensi berimbas pada dunia internasional.
Pasca terbitnya sejumlah kebijakan terkini, tutur Dedy, tidak sedikit warga AS yang melakukan penolakan. Bahkan, ucpanya, warga AS melakukan unjuk rasa.
Imbas ke negara lainnya, termasuk Indonesia, dolar AS menguat. Hal itu menyebabkan rupiah pun melemah. Efek negatifnya bagi Indonesia, jelas Dedy, investasi dapat menjadi sedikit melemah. Selain itu, sambungnya, harga saham pun dapat terpengaruh.
Karenanya, tegas Dedy, pihaknya menunggu perkembangan situasi tersebut. “Kami mengimbau teman-teman pengusaha supaya melihat dan mencermati perkembangan di AS. Kami belum dapat memutuskan langkah dan upaya apa yang harus dilakukan. Kita lihat saja perkembangannya selama beberapa bulan mendatang,” tutup Dedy. (win) 

Related posts