Komunikasi Politik yang Membingungkan

Ketua Bidang Komunikasi MRI, Iqbal Setyarso (dok.ACT)

Iqbal Setyarso
Ketua Bidang Komunikasi
Masyarakat Relawan Indonesia (MRI)

Siapa pernah ditindas, berjuang, meraih simpati dunia karena lantang menyuarakan pembelaan,  niscaya ia saat memenangi hati dunia,  tak akan diam diri melihat penindasan terjadi di sekitarnya terlebih yang menjadi sasaran adalah orang-orang yang ada dalam wilayah pengayomannya.

Ketika terjadi sebaliknya, saat yang bersangkutan punya panggung, memenangi kontestasi politik, ini mencengangkan.  Dunia merasa tertipu. Terlalu menyolok faktanya, bahkan terjadi bergelombang selama bertahun-tahun sampai sang tokoh punya posisi penting. Tak ada alasan untuk mengatakan tragedi yang memaksa puluhan ribu orang menyelamatkan diri dari negerinya, dalam ketakutan akut, sebagai fitnah.

Penuturan para korban yang selamat pelarian itu membuat kita berkesimpulan, mereka ngibrit,  seakan bertemu malaikat maut yang menampakkan diri, sehingga tak sempat lagi membawa bekal, meninggalkan kampung halamannya. Ini bukan fitnah. Puluhan ribu orang bergelombang, naik kapal sarat manusia; sebagian tiba selamat di negeri tetangga seperti Bangladesh, Thailand, atau Indonesia. Sebagian lagi,  tak selamat, meninggal di perjalanan, atau tenggelam  di laut.

Hal mencengangkan lainnya,  Aung San Suu Kyi, mengaku terganggu dengan sikap negara lain terkait masalah yang menimpa Muslim Rohingya di Rakhine. Suu Kyi menganggap beberapa negara terlalu ikut campur atas masalah yang terjadi di negaranya.

Ia juga secara eksplisit mengungkapkan, “Publik Indonesia selalu mengganggu kami. Mereka seakan lebih tahu tentang kondisi yang terjadi di sini,” kata Suu Kyi, seperti dilansir BBC, Sabtu (26/8). Ini komunikasi politik yang mencengangkan.

Suu Kyi mengungkapkan eksplisit “publik Indonesia”, dan bukan Indonesia atau pemerintah Indonesia, sebagai pihak yang disalahkannya. Padahal, rakyat Indonesia sendiri sudah berkali-kali menangani ekses kekerasan terhadap Rohingya di Myanmar, dengan membantu pelarian yang masuk Bangladesh, Thailand atau Indonesia.

Atas nama “publik Indonesia”, Myanmar harus faham suasana psikologis dan spiritual “publik Indonesia” yang dipersalahkannya dan dianggap  sok tahu persoalan Myanmar.

Pertama,  tanpa  Suu Kyi bicara segusar itu saja,  “publik Indonesia” sudah ingin lebih ekspresif menunjukkan pembelaan atas Rohingya. Ketika tahu bantuan kemanusiaan untuk Muslim Rohingya yang masih di Myanmar harus “dibagi dua”, untuk Buddhis dan untuk Muslim,  batin publik sudah tak terima.

Bantuan itu dari sesama Muslim yang tak terima saudaranya disakiti, dibantai dan diusir, mengapa harus berbagi dengan pihak yang memusuhinya?  Tapi demi peredaman dan memberi kesempatan ekstrimis Buddhis siapa tahu bisa menjadi manusiawi, sehingga tak ada keributan dengan aturan itu.

Tapi ternyata kekerasan berlanjut, bahkan melibatkan aparat negara: polisi dan angkatan bersenjata. Muslim Rohingya yang telanjang kaki, perempuan mengendong anak,   dibombardir dari udara meski yang diserang tak bersenjata.

Kedua,  publik Indonesia (dan dunia) berpandangan,  Muslim Rohingya berhak membela diri, Muslim lainnya  wajib menolong kekuatan yang amat tak imbang ini. Wajar kalau dunia internasional mengutuk; pun, dunia Islam menyatukan kekuatan untuk menghentikan pengusiran dan penghilangan nyawa Rohingya.

Ada penyesalan panjang tokoh-tokoh Islam terutama Indonesia, pegiat kemanusiaan Indonesia,  atas prasangka baiknya terhadap Myanmar,  pun terhadap Aung San Suu Kyi selama ini.  Andai sejak awal mereka bersama para tokoh Islam dan agama lain, maupun tokoh kemanusiaan di Indonesia melakukan tindakan mitigasi, menunjukkan kekuatan dan keseriusannya termasuk segera melakukan evakuasi Rohingya secara massal, mungkin lebih banyak nyawa tertolong.

Ketiga,  rasa sesal itu sudah berubah menjadi keterpanggilan. Dunia menyaksikan, ketika terjadi kelambanan pengadilan, juga disinformasi kekuatan politik tertentu demi menyelamatkan Ahok, umat Islam mampu melakukan aksi damai terbesar sepanjang sejarah Indonesia,  Aksi Bela Islam – 212.

Kini, perilaku otoritas kekuasaan Myanmar, pun ucapan Aung San Suu Kyi, sudah melebihi batas yang dibenarkan agama apapun, bahkan kemanusiaan. Dunia menunggu waktu saja, hingga masyarakat antarbangsa segera bersatu, bersiap menolong  bahkan kalau itu berisiko berpisah dengan dunia fana ini.

Related posts