
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Investasi ternyata tidak hanya dapat berlangsung di Indonesia, khususnya, Jabar, yang sejauh ini, memiliki daya tarik cukup kuat bagi para investor. Akan tetapi, para investor domestik pun punya peluang untuk mengembangkan bisnisnya melalui berinvestasi di mancanegara.
Salah satu negara yang membuka pintu investasi bagi investor asal bumi Nusantara adalah Australia, khususnya, bidang properti. “Benar. Ada peluang bagi pebisnis Indonesia, khususnya, bidang properti, untuk berinvestasi di Australia,” tandas CEO Crown International Holdings Group, Iwan Sunito, belum lama ini.
Menurutnya, peluang itu terbuka karena pemerintah Australia, melalui Bank Sentral Australia, mengurangi Suku Bunga sebesar 25 basis poin atau 0,25 persen, yaitu menjadi 2,25 persen. Kebijakan itu pun, lanjut Iwan, juga berperan penting mendorong produktivitas domestik, termasuk investasi di Negeri Kangguru tersebut.
Iwan mengemukakan, pihaknya, yang berbasis di Australia, mengaku optimis pada tahun ini. Pasalnya, jelas dia, ada beberapa hal yang menjadi dasar optimisme itu. Yaitu, sebut dia, selain pengurangan suku bunga oleh Bank Sentral Australia, juga nilai tukar Dollar Australia yang kompetiti dengan Dollar Amerika Serikat (AS). Selain itu, lanjut dia, pertumbuhan porperti di Australia pada tahun lalu.
Diutarakan, di Australia, khususnya, Sydney, tahun lalu, properti mencatat pertumbuhan yang signifikan. Data Domain Group, konsultan terkemuka Australia merilis data, bahwa harga properti di Australia melejit 14,1 persen. Pada tahun yang sama. lanjut Iwan, kenaikan pun terjadi pada harga apartemen, yang meningkat 10,4 persen.
Tidak itu saja, di Sydney, kata Iwan, harga rumah pun bertumbuh positif, yaitu pada angka 15,1 persen Bahkan, konsultan itu melaporkan bahwa saat ini, di Sydney, berlangsung pembangunan International Convention Center, yang berlokasi di Darling Harbour, kawasan Barangaroo, yang bernilai Rp 60 triliun. Tidak itu saja, kata Iwan, juga bergulir proyek revitalisasi di kawasan Green Square sejumlah Rp 80 triliun. “Perkembangan-perkembangan itulah yang membuat Sydney menjadi sebuah pasar properti yang prospektif,” tutup Iwan. (ADR)





