April 2015, TDL Rumah Tangga Naik

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Pada bulan depan, tepatnya 1 April 2015, masyarakat kembali harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Pasalnya, pemerintah bersiap menaikkan tarif dasar listrik (TDL) kalangan rumah tangga golongan R-1, yaitu berdaya 1.300 Volt Ampere (VA) dan 2.200 VA. Sejatinya, kenaikan TDL dua golongan rumah tangga itu, bergulir pada 1 Januari 2015. Akan tetapi, pemerintah menunda putusan itu.

Tentu saja, kepastian kenaikan TDL dua golongan rumah tangga itu mendapat beragam reaksi. Beragam komentar pun diucapkan berbagai lapisan masyarakt. “Kenaikan TDL mulai 1 April 2015 memberatkan. Soalnya, beban semakin bertambah,” tandas Yoga, warga kawasan Buah Batu Bandung.

Menurutnya, makin beratnya beban itu karena sejak beberapa pekan terakhir, masyarakat mengalokasikan dana lebih besar karena adanya kenaikan harga sejumlah komoditi dan kebutuhan pokok. Satu di antaranya, ucap ayah tiga anak ini, harga jual beras.

Terpisah, ekonomi asal Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, berpendapat, sebaiknya, pemerintah kembali mempertimbangkan putusan kenaikan TDL dua golongan rumah tangga itu secara matang. Acu, sapaan akrabnya, melanjutkan, pemerintah harus mempertimbangkan daya beli dan kemampuan masyarakat saat ini.

Dikatakan, saat ini, daya beli masyarakat cenderung mengalami pelemahan. Itu terjadi, jelasnya, karena terjadinya kenaikan harga jual sejumlah kebutuhan pokok, yang satu di antaranya, adalah beras. Kemudian, lanjutnya, fluktuatifnya harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, juga berpengaruh pada daya beli masyarakat. “Belum termasuk kenaikan harga jual elpiji. Tentunya, apa yang menjadi putusan pemerintah, yaitu menaikkan TDL membuat beban masyarakat kian berat. Apalagi, jika berkaitan dengan pelemahan rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS), hal itu berkaitan dengan harga jual beragam kebutuhan pokok lainnya,” papar Acu.

Berdasarkan Undang Undang, pemerintah punya kewajiban melindungi masyarakat. Pasalnya, jelas dia, pemerintah tidak dapat menjamin bahwa apabila masyarakat mengalami kenaikan pendapatan menjadi indikator naiknya TDL dua golongan rumah tangga itu.

Acu mengkritisi bahwa putusan pemerintah menaikkan TDL dua golongan rumah tangga merupakan sebuah langkah yang tidak tepat. Itu karena, terangnya, harga jual bahan baku produksi listrik dunia, yaitu minyak bumi dan batu bara, justru turun. “Sejauh ini, 70 persen bahan baku proses produksi listrik menggunakan munyak bumi. Sedangkan harga jual minyak dunia turun. Ironisnya, pemerintah justru menaikkan TDL. Jadi, logikanya, pemerintah tidak perlu menaikkan TDL,” urai Acu.

Dia berpandangan, apabila kenaikan TDL berkenaand engan rencana investasi PT PLN, pemerintah tidak perlu membebankannya kepada masyarakat. Sebaliknya, kritik Acu, PLN harus mengevaluasi kinerjanya secara menyeluruh. “Apakah PT PLN sudah efisien atau belum selama ini. Jadi, kalau masyarakat harus terbebani karena PT PLN berencana melakukan investasi, ini sangat tidak cantik. Harusnya, (PT PLN) lakukan evaluasi dan yang terpenting, efisiensi,” tutup Acu.  (ADR)

Related posts