JABARTODAY.COM – BANDUNG
Terjadinya pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak seperti tahun sebelumnya. Pasalnya, selama 2014, pertumbuhan ekonomi, khususnya, Jabar, mengalami perlambatan. Satu di antaranya, dalam hal produksi pertanian.
Kondisi itu berdampak pada tingkat penyerapan beras oleh Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jabar. “Benar. Penyerapan tahun ini lebih sedikit daripada realisasi 2013. Tahun ini, penyerapan sekitar 274 ribu ton. Sedangkan prognosanya, 550 ribu ton,” tandas Kepala Perum Bulog Divre Jabar, Alip Apandi, di tempat kerjanya, lantai 2 Gedung Graha Sativa Perum Bulog Divre Jabar, Jalan Soekarnohatta Bandung, Kamis (13/11).
Alip mengemukakan, turunnya penyerapan oleh Perum Bulog Divre Jabar tersebut bukan tanpa alasan kuat. Menurutnya, hal itu terjadi karena produksi pertanian, khususnya, padi, memang turun. Penyebab turunnya produksi padi, jelas dia, disebabkan beberapa hal. Di antaranya, kondisi cuaca yang memang kurang mendukung sektor pertanian.
Meski demikian, tegas Alip, publik tatar Pasundan tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan beras. Pasalnya, ungkap dia, ketersediaan beras di Jabar dapat mencukupi hingga 5 bulan mendatang.
Masih tentang penyerapan, Alip menuturkan, di Jabar, penyerapan tertinggi masih berada di sentra produksi padi. Yaitu, tukasnya, wilayah Pantai Utara (Pantura) Jabar. Misalnya, kata dia, Cirebon, Indramayu, Subang, dan Purwakarta. “Cirebon yang tertinggi, kemudian Indramayu,” ujarnya.
Berbicara tentang program beras masyarakat miskin (raskin), Alip menyebutkan, aktivitas itu, masih berlangsung. Sejauh ini, ucap dia, penyaluran raskin di Jabar mencapai 95 persen. (ADR)





