Tak pelak lagi, keberadaan PT Dirgantara Indonesia menjadi sebuah unsur penting bagi negara ini. Badan Usaha Milik Negara yang dulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara itu menjadi salah satu industri kedirgantaraan terkemuka dan mendapat kepercayaan publik internasional.
Buktinya, dalam beberapa tahun terakhir, lembaga yang pernah dipimpin Presiden RI ke-3, BJ Habibie, itu mendapat kontrak kerjasama dengan beberapa industri dirgantara raksasa, semisal Airbus. Kemudian, tidak sedikit produk PT DI yang dipesan sejumlah negara, semisal Thailand, Malaysia, dan lainnya.
Tidak hanya pasar internasional, ternyata, PT DI pun siap memenuhi kebutuhan dalam negeri. Buktinya, PT DI mencanangkan penyelesaian pembuatan N-219 pada Agustus 2015. “Rencananya, kami memproduksi N-219 secara massal dan menjadi kado HUT RI ke-70,” ungkap Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, pada sela-sela aca HUT PT DI ke-38, Sabtu (23/8/2014).
Berbeda dengan produk terdahulunya, N-250, yang proses produksinya berlangsung pada era BJ Habibie, Budi menjelaskan, proses produksi N-219 murni benar-benar sejak awal. Yaitu, terangnya, mulai desain hingga produksinya. Pesawat ini dapat menjadi produk massal pertama PT DI.
Saat ini, dituturkan Budi, pihaknya membangun 2 unit prototipe N-219, sebagai contoh kepada calon konsumen. Pasca pembuatan ke-2 prototipe pada 2015 itu, pihaknya siap memproduksi pesawat berkapasitas 19 penumpang dan dapat beroperasi pada landasan pendek tersebut secara massal. Rencananya, cetus dia, pihaknya memproduksi pesawat berharga jual 5 juta Dollar Amerika Serikat (AS) per unit itu sebanyak 12-18 unit per tahun. “Kami pun berencana memproduksi pesawat Seri N-219,” tukasnya.
Menurutnya, pembuatan N-219 tidak lain sebagai sarana pemenuhan kebutuhan pasar nasional, khususnya, wilayah timur, semisal Kalimantan dan Papua. Budi berpendapat, Kalimantan dan Papua adalah kawasan-kawasan yang hanya dapat terjangkau oleh pesawat terbang. Sebagai contoh, sahut Budi, Wamena, Papua. Tidak mudah untuk menjangkau 9 kabupaten di Wamena. Untuk mempermudahnya, harus menggunakan pesawat terbang,
Budi optimis N-219 mendapat respon positif. Alasannya, jelas dia, dalam hal harga jual, N-219 lebih murah. Karenanya, harganya sangat bersaing. “Untuk produk sekelas dan sejenis yang diproduksi negara lain, harganya 6-7 juta,” tutup Budi. (ADR)






