Pawai 52.280 Cetok Purwakarta, Pecahkan Rekor MURI

aJABARTODAY.COM – PURWAKARTA

Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mencatatkan rekor baru untuk peserta pawai cetok yang dihelat sabtu (23/08) malam di Purwakarta, Jawa Barat. Tak tanggung sebanyak 52.280 peserta pawai yang menggunakan tutup kepala khas petani Indonesia ini, memadati dan mengular sepanjang rute jalan Jenderal Sudirman Pasar Jumaah. Rekor ini mengalahkan rekor sebelumnya pada ajang yang sama, yang digelar tahun 2012 di Jakarta oleh salah satu partai politik yang hanya berjumlah 10.060 peserta.

Penghargaan MURI bagi Purwakarta, sebenarnya bukan hal yang baru. Pasalnya, sejak 3 tahun terakhir, kabupaten terkecil di Jawa Barat ini sudah langganan mendapatkan rekor MURI dari berbagai event yang pernah digelarnya dengan melibatkan banyak peserta. Yang menarik, rekor yang diperoleh selalu bertajuk seni budaya asli indonesia.

Rekor pertama tahun 2011 untuk ‘pawai tumpeng’, tercatat sebanyak 37.860 penyajian tumpeng. Tahun berikutnya ada ‘pawai egrang’ dengan jumlah 14.570 peserta, lalu di tahun yang sama ‘parade 1001 bedug’ dengan total 1.614 bedug. Tak kalah menarik, 2 rekor baru MURI didapat tahun 2013 lalu untuk peserta terbanyak ‘pawai lampion jinjing dan lampion terbang’ dengan jumlah masing-masing 56.472 lampion dan 5.000 lampion.

Seluruh event yang tercatat di rekor MURI ini, hanya beberapa di antara puluhan event yang pernah digelar Purwakarta dalam rangkaian hari jadinya dari tahun ketahun. Memang terbilang sukses, hingga gelaran hari jadi Purwakarta menjadi daya tarik wisata budaya bagi para pelancong dan warga di luar purwakarta. ini bisa dibuktikan pada sabtu malam lalu saat pawai cetok digelar.

Pantauan Jabartoday.com di lapangan, selain dipadati peserta pawai, event ini juga mengundang warga baik dari dalam maupun luar purwakarta. Praktis, rute pawai yang tadinya dipusatkan di jalan Jendral Sudirman, melebar hingga ujung peserta pawai ditempatkan di Jalan Babaru Nagri dan Jalan Veteran Kebon Kolot, sepanjang 4 km. Arus kendaraan pun akhirnya dialihkan ke Jalan Kopi depan Mapolres Purwakarta.

Antusiasme peserta dan warga yang menonton, kontras terlihat saat pawai dibuka oleh Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi, SH tepat di pertigaan patung egrang sekitar pukul 7 malam. gemuruh dan sorak sorai peserta dan penonton begitu riuh tatkala opening art dari seniman tari dan musik mengawali acara. Yang lebih menarik, pawai cetok ini juga dimeriahkan berbagai macam dongdang (miniatur bangunan-red) dan bebegig (boneka sawah dari jerami) berbagai macam ukuran.

Adapula di antara peserta pawai yang menggunakan egrang, termasuk seni sisingaan serta ciri khas lain daerahnya yang dapat dinikmati oleh warga yang menonton termasuk bupati dan jajaran muspida serta tamu undangan lain yang hadir saat itu. Peserta sendiri berasal dari organisasi perangkat daerah (OPD), BUMD, BUMN, swasta, perbankan, utusan tiap desa serta paling banyak dari pelajar semua tingkatan yang ada di Purwakarta.

Ditemui disela acara, Bupati Purwakarta H. Dedi Mulyadi, SH mengatakan event ini merupakan bagian dari promosi daerahnya sebagai tujuan wisata budaya, sekaligus sebagai kampanye mengembalikan bambu bahan dasar pembuatan cetok sebagai ikon pohon di purwakarta terutama di kecamatan sukasari. dari bambu pula menurut dedi, bisa digunakan sebagai penangkal polusi udara dan konservasi lingkungan.

“Kedepan, bambu akan menjadi tanaman wajib disetiap kantor pemerintah, swasta, pekarangan rumah warga, termasuk ruang terbuka taman kota” jelas Dedi. selain itu, Cetok, menurut Dedi, memiliki makna filosofi cukup mendalam. Cetok adalah representasi dari kemahatunggalan Tuhan yang disimbolkan pada bentuk ujung kerucut cetok, “kemahatunggalan dari sekian banyak umat manusia di alam raya ini” tambah Dedi.

Menurut Dedi, cetok merupakan representasi kultur petani Sunda yang patut dipertahankan. Karena dengan cetok pula, menjadi simbol spirit (kekuatan) dari produktifitas masyarakat Jawa barat, didalamnya masyarakat Purwakarta. “Ini bisa dibuktikan, kreatifitas, produktifitas dan kepedulian warga Purwakarta dalam setiap event yang digelar, pesertanya relatif terus bertambah” pungkas Dedi.

Sementara itu, Dinda (21) warga kelurahan Munjuljaya mengaku cukup terhibur dengan event pawai cetok ini. Dirinya tak pernah absen dari tahun-ketahun setiap event yang digelar oleh kabupaten yang dicintainya ini.

“Ultah Purwakarta kali ini tinggal acara puncaknya Festival Asia Pasifik, pekan depan. Jelas aku akan lihat paling depan dong” selorohnya.

Pawai berakhir tepat pukul 01.00, minggu (24/08) dini hari, dengan ditandai penyerahan piagam rekor MURI dari perwakilan MURI kepada Bupati Dedi.

Rencananya pekan depan, puncak acara rangkaian Hari Jadi Purwakarta yang ke-183 ini akan ditutup oleh karnaval seni budaya negara-negara asia pasifik. tak tanggung, 12 negara menyatakan kesiapannya datang ke purwakarta. (HMS/FZF)

Related posts