Home » Opini

Opini

Isu Pribumi dan Budaya Cari-Cariisme

Oleh Jaya Suprana *) JABARTODAY.COM- Ternyata pidato perdana Anies Baswedan setelah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta menimbulkan kegaduhan. Akibat tidak mendengar pidato tersebut dengan telinga kepala saya sendiri maka saya mencoba mendengarkannya dari video CNN Indonesia yang diunggah di Youtube. Bagian yang menggaduhkan berada pada menit 06.30-08.00 sebagai berikut “Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme ...

Read More »

Pitung Sang Penggerak (3)

Oleh Komaruddin Rachmat Pada 1640 armada Portugis yang membawa tawanan dihancurkan armada Belanda di Selat Malaka. Tawanan Portugis tersebut dibawa ke Batavia dan  kemudian dijadikan budak. Mereka kemudian dibebaskan setelah mau pindah dari agama Katolik menjadi Protestan. Dipanggil  dengan sebutan sebagai kaum Mardijck atau kaum yang merdeka. Mereka kemudian ditempatkan di kampung tugu Cilincing bekas pemukiman Hindu yang telah ditinggalkan, yaitu ...

Read More »

Pitung Sang Penggerak (2)

Oleh Komaruddin Rachmat Pitung di Rawa Belong dengan terbuka diterima oleh pamannya Haji. Naipin. Haji Napiudin sebelum pulang menyampaikan pesan kepada adiknya, agar mendidik pitung dengan ajaran agama, mengingat ayahnya pitung telah menjadi murtadin yang membuat rasa prihatin keluarga besar mereka semua. Ajaran dasar  silat Haji Naipin adalah aliran yang sama dengan Si Pitung yang diturunkan oleh Kong Junet, sehingga ...

Read More »

Pitung Sang Penggerak (1)

Oleh Komaruddin Rachmat Solihun lahir di Kampung Kayu Tinggi, sekarang Kelurahan Cakung Timur – Jakarta Timur) dari ayah Napiun (Bang Piun) dan ibu Sopinah (Mpok Minah). Ketika berumur 10 tahun Solihun dan ibunya ditinggalkan oleh ayahnya yang kepincut gadis Kampung Tugu yang beragama Nasrani. Bang Piun pun jagoan Cakung itu berpindah agama menjadi Nasrani. Setelah menikah, mereka pindah ke kampung sawah (sekarang ...

Read More »

G30S/PKI, Mengapa Gagal? (2)

Komaruddin Rachmat Beralihnya operasi militer dari Kolonel Untung langsung ke biro khusus (Syam) ditandai dari terjadinya dua pengumuman yang berbeda di RRI. Yaitu pada pagi hari diumumkan telah digagalkanya kudeta oleh dewan jenderal, tapi menjelang petang di siarkan dengan berita yang berbeda bahwa telah terbentuk dewan revolusi yang berarti kudeta terhadap Soekarno. Disini juga bisa dilihat bahwa Untung ternyata hanya ...

Read More »

G30S/PKI, Mengapa Gagal? (1)

Komaruddin Rachmat Tafsir berbeda dari sejarah yang ada tentang G30S/PKI datang pertama kali dari Cornell paper. Naskah university of Cornell tersebut dirumuskan oleh dua ahli Indonesia yaitu Ben Anderson dan Ruth Mc Vey, yang menyatakan bahwa G30S/PKI adalah semata problem internal Angkatan Darat. Sukmawati dalam simposium nasional 1965 juga menyatakan bahwa Gerakan 30 september 1965 adalah bukan kudeta PKI tapi ...

Read More »

Masa Depan Konsorsium Riset Samudera

Oleh. Tatang Muttaqien, Ph.D   Jika Presiden Joko Widodo memproyeksikan Indonesia untuk menjadi negara dan bangsa yang maju pada tahun 2045, maka peningkatan kualitas litbang menjadi keniscayaan. Beragam sumberdaya litbang akan optimal jika disinergikan dengan baik dan tepat sehingga pemetaan dan perancangan program litbang menjadi krusial untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sementara itu, pergeseran orientasi darat ke laut ...

Read More »

Hari-hari Mencekam (4)

Komaruddin Rachmat Pada 30 September 1965 rakyat Cakung terutama yang tinggal di pinggir jalan menyaksikan pemandangan yang tidak biasa, yaitu pergerakan massa mengenakan yang berpakaian hitam-hitam dan memakai ikat kepala berwarna merah. Kami tidak tahu dari kota mana gelombang massa itu datangnya. Belakangan saya baru tahu setelah saya ketemu Kong Uthe di kedainya baru-baru ini di Jalan Kartini kota Bekasi. ...

Read More »

Hari-hari Mencekam (3)

Oleh Komaruddin Rachmat Baba Muram dan Danapi sepertinya ditugaskan untuk menjaga kami, karena kerap berada di sekitar kami. Sejatinya selalu berada di rumah  menyiksa bagi saya dan teman-teman, karena kami adalah anak-anak nakal kampung ketika itu. Kami melakukan apa yang kami mau. Kamar saya memiliki jendela yang memiliki akses keluar. Ayah saya menyangka saya sudah tidur padahal saya sudah menyelinap ...

Read More »

Hari-Hari Mencekam (2)

Oleh Komaruddin Rachmat Hubungan kekerabatan itu jualah akhirnya yang menyelamatkan anggota PKI di desa kami dari pembersihan pasca peristiwa G30S/PKI, karena data-data keanggotaan PKI mereka dibakar oleh H Skr sebelum RPKAD datang. H Skr adalah aktifis pemuda Anshor yang ikut mengganyang PKI, dan ayah saya membiarkan pembakaran tersebut. Sejak pawai obor jalan kaki PKI menjelang hari ulang tahunnya pada 5 ...

Read More »