Home » Regional » Sempat Amblas, Jalur Garut Mulai Normal

Sempat Amblas, Jalur Garut Mulai Normal

Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional II Bandung, Jaka Jarkasih. (rri.co.id)

Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional II Bandung, Jaka Jarkasih. (rri.co.id)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Tingginya curah hujan menyebabkan daerah-daerah rawan longsor, termasuk yang menjadi perlintasan kereta api (KA) mengalami berbagai kejadian. Seperti pada jalur rel KA KM 207+8-9 antara Stasion Karangsari dan Cibatu, Kec.Leuwigoong, Kabupaten Garut. Ruas jalur di lokasi itu sempat amblas, pada Minggu (15/12) malam.

 

         
Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional II Bandung, Jaka Jarkasih, mengakui, bahwa rute dari dan ke Bandung via jalur selatan tersebut sempat terputus di wilayah Garut. Hal itu terjadi karena amblasnya tanah berdiameter sekitar 5 dan berkedalaman kira-kira 6 meter. “Hujan deras membuat pergerakan tanah, yang kemudian amblas,” ujar Jaka, Senin (16/12). 

Kondisi itu, lanjutnya, menyebabkan terganggunya perjalanan KA. Setidaknya, kata Jaka, terdapat sekitar 7 rute perjalanan daeri dan ke Bandung yang terhambat. “Untuk keberangkatan dari Stasiun Bandung, tiga rangkaian terganggu, yaitu KA Turangga, pukul 20.00, dua lainnya bertolak dari Stasiun Kiaracondong, yakni KA Kahuripan, pukul 20.30 dan KA Kutojaya pukul 21.10,” paparnya.

Dijelaskan Jaka, dua KA, yaitu Turangga dan Kahuripan, sempat tertahan yang lokasinya pada sebuah stasiun sebelum Stasiun Karangsari. Meski begitu, perjalanan kedua KA itu dapat berlanjut melalui jalur utara. Untuk yang menuju Bandung, tertahan di Stasiun Cibatu, yaitu antara lain KA Pasundan, KA Mutiara Selatan, KA Lodaya Malam, dan KA Serayu.

Sebagai bentuk pelayanan, tutur Jaka, pihaknya mengalihkan para penumpang yang bertolak dari timur pada mobil. “Sejumlah rute perjalanan pun, kami alihkan pada jalur utara, yaitu menggunakan jalur Cikampek-Cirebon,” sahut dia.

Meski sempat tertahan, berkat kerja keras, akhirnya, jalur tersebut secara perlahan kembali. Sebenarnya, kata Jaka, mulai pukul 07.05, jalur dapat kembali digunakan. “KA pertama yang melintasi jalur itu pasca amblas yaitu KA Pasundan, yang tertahan di Stasiun Cibatu, pukul 08.30. Tapi, demi menjaga keamanan, kami membatasi kecepatan pada jalur itu, yaitu maksimal 5 kilometer per jam,” tutup Jaka.

Sebelumnya,musibah longsor menimpa Kampung Cikawung, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Sabtu (14/12) malam, jalan lingkar selatan Garut yang menghubungkan dengan Pangalengan, Kabupaten Bandung, tidak bisa dilewati kendaraan. Badan jalan yang dilanda longsor diperkirakan sepanjang 100 meter. (VIL)

Komentar

komentar