Home » Pendidikan » Surat Terbuka untuk Solusi Ironi UPI

Surat Terbuka untuk Solusi Ironi UPI

aAssalamualaikum Wr. Wb.

Terlebih dahulu, perkenankanlah saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Yoga Prayoga, mahasiswa UPI angkatan 2011. Ada beberapa hal yang hendak saya sampaikan dalam surat ini terkait solusi yang kiranya bisa kita tempuh guna menyelesaikan perkara tagihan SPP yang belum bisa dilunasi oleh adik-adik tingkat saya, mahasisa UPI angkatan 2013. Dorongan saya untuk menulis surat ini berasal dari kawan-kawan saya di Insan Cipta Mandiri (ICM), yang pada tahun 2011, ketika masa-masa awal menjadi mahasiswa UPI, juga mengalami hal yang serupa (penangguhan). Karena pengalaman itulah, kemudian mereka ‘memaksa’ saya untuk ikut terjun memikirkan jalan keluar.

Setahu saya, permasalahan seperti ini bukanlah hal yang baru di UPI, melainkan telah terjadi hampir setiap tahun. Akan tetapi, tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bila di masa-masa yang lalu masih ada baitul Mal Wat Tamwil (BMT) UPI yang biasa memberikan pinjaman kepada para mahasiswa yang terkendala biaya, di tahun ini tidak, karena institusi tersebut dibekukan oleh Inspektorat Jenderal (Irjen) dalam rangka pengauditan, sehingga kita tak bisa berharap besar pada institusi ini. Harus kita cari cara lain yang lebih realistis.

Sebelum menawarkan solusi bagi permasalahan ini, ingin saya sampaikan terimakasih kepada BEM REMA UPI bersertakawan-kawan lain yang telah melakukan beberapa upaya sehingga tenggat waktu pembayaran SPP berhasil diperpanjang. Akan tetapi janganlah kita lupa bahwa perpanjangan tenggat waktu pembayaran pada sisi lain juga memperpanjang tempo ‘beban pikiran’ yang mesti diemban oleh adik-adik kita yang dihantui oleh tagihan. Hal ini tentu akan menggangu konsentrasi proses studi yang mereka jalani. Oleh karena itu, upaya untuk menyelesaikan permasalahan ini belumlah usai. Tidak cukup hanya dengan demonstrasi. Harus kita tempuh pula jalan lain yang lebih elegan.

Ada tiga solusi yang saya sarankan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Ketiga solusi tersebut mungkin saja terganjal oleh berbagai macam mekanisme yang tak saya mengerti. Oleh karena itulah, bila solusi yang saya sarankan benar-benar ‘ngawur’, saya harap pembaca yang terhormat memakluminya, karena sungguh, semua itu berasal dari pengetahuan saya yang terbatas.

Baiklah, mari langsung saja kita masuk kedalam bahasan pokok. Berikut solusi yang saya sarankan :

  1. Fungsikan Asrama Mahasiswa

UPI memiliki asrama yang demikian banyak jumlahnya. Saya yakin bahwa asrama tersebut mampu menampung seluruh mahasiswa yang masih mengalami penangguhan. Bila asrama ini difungsikan secara gratis bagi mereka, tentu mereka tak perlu membayar biaya kost. Dengan demikian, SPP pasti bisa dilunasi.

  1. Berikan Beasiswa

Biasanya, pemberian beasiswa dimulai pada semester 3. Akan tetapi, bila sejak dini mereka diberi beasiswa, tentu SPP akan mampu mereka bayar. Karena mereka masih menempuh semester 1, dapat dipastikan bahwa beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) /Biaya Bantuan Mahasiswa (BBM) tak kan berlaku. Tapi jangan lupa, UPI kerap memberikan ‘beasiswa Tidak Mampu’. Dan ini, tentu bisa digulirkan sejak awal.

 

Jika kedua solusi yang saya sarankan diatas terhalang oleh mekanisme tertentu, alternatif ketiga nampaknya akan menjadi jalan terakhir. Berikut pemaparannya :

 

  1. Penggalangan Dana

Ada ribuan mahasiswa, ratusan dosen, serta sekian pegawai yang merupakan civitas akademika UPI. Dari tampilan luar, kesan yang saya tangkap adalah bahwa mereka hidup dalam kondisi ekonomi yang berkecukupan, bahkan lebih. Bila setiap orang menyumbang sekian ribu rupiah, tentu akan terkumpul sekian ratus juta uang yang bisa dipergunakan untuk pembayaran SPP. Hal ikhwal yang mesti disiapkan agar hal ini bisa terwujud adalah badan yang siap bertanggung jawab menjadi pengumpul dana. Konon hal semacam ini pernah dilakukan pada tahun 2008 oleh IKA (Ikatan Alumni) UPI. Hasilnya pun cukup mampu membantu.

 

Demikian yang dapat saya sampaikan dalam surat ini. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Semoga permasalahan ini bisa bermuara pada jalan keluar yang memuaskan bagi semua pihak. Saya juga berharap agar pihak UPI bisa membuat terobosan baru, sehingga permasalahan seperti ini bisa dicegah agar tidak terjadi lagi di tahun-tahun yang akan datang.

 

Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih.

 

WassalamualaikumWr. Wb.

Yoga Prayoga

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.