Home » Bandung Raya » Mediasi Keluarga dan Borromeus Alami Deadlock

Mediasi Keluarga dan Borromeus Alami Deadlock

SidangJABARTODAY.COM – BANDUNG

Mediasi antara keluarga Muhamad Gumilar, anak yang meninggal akibat kesalahan diagnosis dengan Rumah Sakit Santo Borromeus mengalami deadlock atau jalan buntu. Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa (7/1/2014), kedua belah pihak tidak mendapat titik temu terkait gugatan yang dilayangkan keluarga almarhum. Maka itu, mediasi akan dilanjutkan dengan sidang perdata pada Kamis (16/1/2014) mendatang.

Disampaikan kuasa hukum penggugat, Hayun Shobri, pihak Borromeus tidak memberikan apa yang kliennya inginkan, yang membuat negosiasi berakhir buntu. “Apa yang kita tawarkan berbentuk suatu nilai (uang), tapi Borromeus tidak bisa memberikan hal tersebut. Mereka malah akan memberikan pelayanan kesehatan bagi keluarga terdekat almarhum,” ujar Hayun, usai mediasi.

Menurut Hayun, hal tersebut sangat tidak masuk akal, karena dengan tawaran itu berarti Borromeus mengharapkan keluarga almarhum untuk sakit. Tawaran itulah yang pihaknya sayangkan, pasalnya keluarga lebih menginginkan ganti rugi secara materiil. “Alasan mereka menolak saya tidak tahu pasti. Tapi tidak menutup kemungkinan, sambil berjalan bisa sesuai dengan yang kita gugat,” katanya.

Hayun mengungkap, kliennya sempat meminta kasus ini menjadi tindak pidana murni, hanya saja, pihaknya  masih menahan diri dan melihat hasil mediasi. Namun, memandang buntunya negosiasi, dirinya akan melaporkan ke kepolisian menyangkut kelalaian yang menyebabkan orang meninggal dunia. “Kita akan laporkan ke Polda atau Polrestabes. Waktunya kapan, akan kita diskusikan dulu dengan keluarga,” terangnya.

Sementara, kuasa hukum Borromeus, Kuswara S. Taryono, menuturkan, alasan pihaknya menolak permintaan dari penggugat dikarenakan ingin memberikan kesempatan mengganti rugi sesuai bidangnya. “Intinya, karena rumah sakit kaitannya dengan pelayanan kesehatan. Jadi kita ingin memberikan sesuai kompetensi rumah sakit,” imbuh Kuswara.

Sama dengan Hayun, Kuswara juga menyatakan, tidak tertutup kemungkinan adanya titik temu ketika sidang berjalan nantinya.

Seperti diberitakan, RS Santo Borromeus Bandung bersama beberapa dokternya digugat Rp 10 miliar oleh orang tua Gumilar akibat malapraktik. Dalam gugatan tersebut disebutkan telah terjadi kelalaian dan salah diagnosis terhadap pasien yang mengakibatkan meninggal dunia.

Saat Gumilar melakukan pengobatan ke RS Borromeus, pada 30 Desember 2010, dokter rumah sakit melakukan biopsi untuk diambil sampel jaringan tubuh untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium patologi anatomi RS Borromeus.

Dari hasil pemeriksaan itu, disimpulkan Gumilar mengidap penyakit lymphadenitis tuberculosa (peradangan granulomatosa pada kelenjar getah bening). Dari hasil pemeriksaan itu dokter rumah sakit memberikan obat yang berhubungan penyakit tersebut.

Karena tidak ada reaksi atas pengobatan tersebut, akhir Juni 2011, Muhamad diperiksa kembali ke dokter yang berbeda. Atas saran dokter tersebut kemudian dilakukan biopsi ulang di Laboratorium Pramitha Bandung pada 24 Agustus 2011 dan hasilnya ternyata berbeda.

Atas dua hasil yang berbeda itulah, tentu membuat kaget keluarga dan akhirnya dilakukan pemeriksaan ulang di Lab RS Immanuel atas sempel yang telah diperiksa oleh RS Borromeus. Hasilnya ternyata bukan Tubercolusa tapi Hodgkin’s Lymphoma Mixed Cellularity (penyakit jenis kanker). Kemudian karena penasaran sampel yang telah diperiksa oleh RS Borromeus tersebut diperiksa lagi di RS Hasan Sadikin dan hasilnya sama dengan yang diperiksa RS Immanuel. (VIL)

Komentar

komentar