Home » Headline » Ketua PN Bandung Sangkal Terima Uang

Ketua PN Bandung Sangkal Terima Uang

Ketua Pengadilan Negeri Bandung Singgih Budi Prakoso menjadi saksi dalam perkara suap Dana Bantuan Sosial Kota Bandung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Kamis (31/10). Singgih bersikeras tidak pernah menerima uang dari Setyabudi Tedjocahyono terkait perkara tersebut. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Ketua Pengadilan Negeri Bandung Singgih Budi Prakoso menjadi saksi dalam perkara suap Dana Bantuan Sosial Kota Bandung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Kamis (31/10). Singgih bersikeras tidak pernah menerima uang dari Setyabudi Tedjocahyono terkait perkara tersebut. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Ketua Pengadilan Negeri Bandung Singgih Budi Prakoso meminta kepada Setyabudi Tedjocahyono, terdakwa suap Dana Bantuan Sosial Kota Bandung untuk tidak menyeretnya masuk ke dalam masalah hukum yang mendera dirinya tersebut. Hal itu disampaikannya saat menjadi saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Kamis (31/10).

“Saya minta jangan menggeret-geret saya. Saya sudah dipermalukan se-Indonesia dengan adanya kasus ini,” ucap Singgih kepada Setyabudi yang duduk di kursi pesakitan di Ruang Sidang I Pengadilan Negeri Bandung.

Sebelumnya, Setyabudi bersikukuh bahwa Singgih mengetahui perkara korupsi bansos Kota Bandung yang ia tangani, bahkan menerima uang dari mantan Wakil Panitera PN Bandung Rina Pertiwi sebesar 15 ribu dollar AS. Setyabudi juga mengklaim Singgih pernah bertemu dengan hakim Jojo Joheri dan Ramlan Comel yang notabene majelis yang menyidangkan perkara bansos. “Tidak pernah!” tegas Singgih soal klaim tersebut.

Justru ia merasa sedih mengapa namanya dibawa-bawa dalam kasus ini. Setitik pun, ucap Singgih, tidak pernah terbersit untuk mengatur persidangan juga memainkan perkara yang sedang berjalan, terutamanya bansos. Ia malah meminta kepada majelis hakim juga Komisi Pemberantasan Korupsi untuk melihat rekam jejaknya menjadi hakim selama ini. “Bahkan untuk perkara kecil pun saya tidak berani untuk mengatur,” tukas Singgih.

Sempat terjadi debat antara Setyabudi dengan Singgih, terutamanya dalam pemberian uang. Singgih menolak tuduhan tersebut, sementara Setyabudi bersikukuh bahwa Rina pernah ke ruang kerja Ketua PN Bandung. Namun, adu mulut itu berakhir setelah Hakim Ketua Nur Hakim meminta agar Setyabudi memasukkan keberatannya dalam pembelaannya nanti.

Seperti diketahui, Setyabudi tertangkap tangan oleh petugas KPK pada 22 Maret 2013 usai menerima uang dari Asep Triana, orang suruhan Toto Hutagalung, sebesar Rp 150 juta. Pemberian itu tidak lepas dari vonis yang diberikan kepada 7 terdakwa korupsi bansos Kota Bandung. Selain dirinya, Toto, dan Asep, kasus ini juga menyeret mantan Kepala Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Bandung Herry Nurhayat. Juga mantan Wali Kota dan Sekretaris Daerah Kota Bandung, Dada Rosada-Edi Siswadi. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.