Home » Ekonomi » Komunikasi Lemah, Akses Perbankan Pun Rendah

Komunikasi Lemah, Akses Perbankan Pun Rendah

dunia usahaJABARTODAY.COM – BANDUNG
Hingga kini, problem yang dialami para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), utamanya, skala mikro, masih tetap klasik. Yaitu, rendahnya akses pembiayaan perbankan. Padahal, saat ini, hampir seluruh lembaga perbankan, baik BUMN, BUMD, swasta, termasuk asing, menjadikan sektor UMKM sebagai target pasar.

 

Kepala Bank Indonesia Kantor Wilayah VI Jawa Barat-Banten Dian Ediana Rae berpendapat, sejauh ini, ada 4 masalah klasik yang masih dialami para pelaku UMKM dan hingga kini belum terpecahkan. “Yaitu kepastian, kapasitas, serta kualitas produksi masih rendah, suku bunga perbankan yang masih tinggi, akses pasar, dan perizinan,” ujar Dian, di Kantor Perwakilan wilayah BI Wilayah VI Jabar-Banten, Rabu (26/3/2014).

 

Dian meneruskan, sebenarnya, keempat permasalahan tersebut dapat terpecahkan apabila terjalin komunikasi yang baik dan intens antara para pelaku UMKM dan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun lembaga perbankan.

 

Sebagai contoh, kata Dian, jika terjalin komunikasi yang baik dengan perbankan, tentunya, lembaga keuangan itu dapat memahami apa yang menjadi kendala para pelaku UMKM, seperti dalam hal pembukuan atau manajemen keuangan. Akibat lemahnya komunikasi itu, tambah Dian, akses perbankan pun menjadi masih rendah.

 

Pada dasarnya, diutarakan Dian, pemerintah pun menggulirkan berbagai program untuk mendorong eksistensi para pelaku UMKM. Menurutnya, sebenarnya, para pedagang asongan, PKL, dan sejenisnya, termasuk para pelaku UMKM.

 

Melihat kondisi itu, saran Dian, idealnya, pemerintah memiliki program untuk meningkatkan kelas para pedagang asongan dan PKL itu. “Mereka (pedagang asongan dan PKL) menjadi para pelaku UMKM yang lebih formal. Artinya, bagaimana caranya, pemerintah memfasilitasi mereka supaya memiliki tempat sehingga lebih berdaya saing dan bankable, sekaligus berefek positif bagi roda ekonomi,” paparnya.

 

Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat Agung Suryamal Soetisno menambahkan, pihaknya berharap lembaga-lembaga perbankan lebih pro-aktif untuk menyikapi masalah sektor UMKM. Misalnya, meningkatkan akses pembiayaan.
Selain itu, imbuhnya, pemerintah pun wajib mendorong seluruh penduduknya, tidak hanya sektor UMKM, supaya lebih produktif. Agung mencontohkan para PKL, yang juga merupakan pelaku UMKM. “Baiknya, pemerintah melakukan upaya untuk menaikkan kelas PKL menjadi sektor UMKM yang formal,” usul Agung.

 

Pada dasarnya, tegas Agung, jika pemerintah siap menaikkan kelas PKL menjadi UMKM formal, pihaknya siap memfasilitasi. “Sesuai undang-undang, kami harus pro aktif untuk memajukan dunia usaha, termasuk sektor mikro, yang di dalamnya, termasuk para pedagang asongan dan PKL,” tutup Agung. (ADR)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.