Home » Ekonomi » Banjir, Kerugian Dunia Usaha Capai Triliunan Rupiah

Banjir, Kerugian Dunia Usaha Capai Triliunan Rupiah

Banjir di Gunung Sahari, Jakarta. (FOTO RAKYAT MERDEKA)

Banjir di Gunung Sahari, Jakarta. (FOTO RAKYAT MERDEKA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Sejak pertengahan pekan lalu, curah hujan yang tinggi terus mengguyur berbagai titik di Indonesia, tidak terkecuali Jawa Barat dan DKI Jakarta. Kondisi itu membuat sejumlah daerah, termasuk ibu kota terendam banjir. Bagi dunia usaha, kondisi tersebut benar-benar sebuah hantaman yang tergolong besar.

 

Bagaimana tidak, dunia usaha Jabar, yang sejauh ini, kebergantungannya pada Jakarta begitu besar, harus meradang. Pasalnya, selama 4 hari terakhir, nyaris tidak ada transaksi perdagangan. “Yang terkena efek banjir Jakarta bukan hanya industri, melainkan seluruh sektor dunia usaha,” ujar Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Barat Deddy Widjaya di Bandung, Senin (20/1/2014).

 

Pria yang juga menjabat Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Jabar Bidang Perindustrian ini menjelaskan, banjir yang menerpa Jakarta membuat alur perdagangan, baik domestik maupun ekspor impor tersendat. Komoditinya, kata Deddy, beragam. Misalnya, produk-produk industri, seperti tekstil. “Termasuk makanan olahan, minuman, bahkan produk agro,” urai Deddy.

 

Sebenarnya, tambah Deddy, barang dan produk ada dan tidak rusak. Akan tetapi, banjir besar yang menerjang Jakarta itu membuat sistem distribusi dan perdagangan lumpuh. Akibatnya, tidak ada transaksi selama beberapa hari terakhir.

 

Situasi itu, lanjut Deddy, menyebabkan terjadinya potensi kerugian dunia usaha Jabar yang begitu besar. Menurutnya, angka kerugian dunia usaha karena tersendatnya perdagangan akibat banjir mencapai ratusan miliar. “Hampir mencapai Rp 1 triliun. Perkiraannya, kerugian sekitar Rp 200 miliar per hari dalam 5 hari terakhir,” ungkap Deddy.

 

Deddy mencontohkan, untuk perdagangan luar negeri, misalnya ekspor, kemungkinan besar, terjadi keterlambatan pendistribusian ke Pelabuhan Tanjung Priok. Tentunya, sahut dia, hal itu membuat adanya penalti bagi para eksportir.“Itu baru dalam satu hal, belum termasuk volume bahan bakar yang terbuang karena kemacetan akibat jalan tergenang air. Jadi, kerugiannya bukan hanya secara materi, melainkan juga imateri, seperti waktu,” urai Deddy.
Pihaknya, cetus dia, berharap, pemerintah memiliki strategi atau kiat-kiat untuk mengantisipasi kondisi yang sama terjadi pada masa mendatang. “Itu demi kepentingan semua pihak, bukan hanya pelaku usaha dan industri,” singkatnya.

 

Ketua Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jabar Yedi Karyadi menambahkan, banjir yang melanda Jakarta menyulitkan distribusi barang, baik ekspor-impor, maupun domestik. “Oke lah, misalnya pelabuhan tidak banjir.  Tapi, sejumlah titik yang menghubungkan jalur strategis serta distribusi terkena banjir. Artinya, tetap saja, aktivitas terganggu atau bahkan terhenti,” ucap Yedi.

 

Yedi menilai , secara keseluruhan, transaksi ekonomi di Jabar turun 30 persen. Sedangkan di Jakarta drop sekitar 40 persen. Diutrarakan, seluruh aktivitas ekonomi, apakah sektor manufaktur, ritel, dan jasa terkena dampak banjir. “Manufaktur sulit memperoleh bahan baku. Peritel tersendat pasokan. Sementara sektor jasa minim konsumen. Terlebih, jalur Pantura pun lumpuh akibat banjir,” papar Yedi. (VIL)

Komentar

komentar