Home » Ekonomi » Inflasi Jabar Capai 10 Persen

Inflasi Jabar Capai 10 Persen

dollarJABARTODAY.COM – BANDUNG
Terbitnya putusan pemerintah mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi pada pertengahan 2013, yang memicu peningkatan harga jual hampir seluruh komoditi, menyebabkan terjadinya inflasi yang tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Jawa Barat, pada Desember 2013, inflasi Jabar sebesar 0,38%.
 
“Inflasi itu terjadi karena meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK), yang pada November 2013 sebesar 143,81 menjadi 144,35 selama Desember 2013,” ujar Kepala BPS Jabar, Gema Purwana, di Kantor BPS Jabar, Kamis (2/1/2014).
 
Naiknya IHK itu, jelas dia, terjadi pada beberapa kelompok. Antara lain, sebutnya, bahan makanan sebesar 0,47%, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,62%, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,38%, sandang 0,17%, kesehatan 0,12%, pendidikan, rekreasi, dan olah raga 0,07%, dan transportasi, komunikasi, serta jasa keuangan 0,19%.
 
Secara keseluruhan dan selama periode Januari-Desember 2013, inflasi Jabar hampir mencapai 10%. Tepatnya, 9,15%. Menurutnya, itu merupakan inflasi tertinggi sejak 2010. Tiga tahun lalu, inflasi Jabar sebesar 6,62%. Sedangkan inflasi Jabar selama periode yang sama 2012, jauh lebih kecil, yaitu 3,86%.
 
Lalu, bagaimana dengan Januari 2014? Dody Gunawan Yusuf, Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jabar, menambahkan, pihaknya memperkirakan, inflasi pada awal 2014 lebih tinggi daripada Desember 2013. Dasarnya, jelas dia, antara lain, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, yang pada penutupan Kamis melemah menjadi Rp 12.200 per dollar AS.
 
Faktor lain yang dapat berpotensi membuat inflasi Jabar pada Januari 2014 lebih tinggi daripada Desember 2013 yaitu adanya rencana pencabutan subsidi energi listrik bagi sektor industri. “Memang, pengaruhnya tidak sehebat kenaikan harga BBM Industri. Walau begitu, tetap saja, pengaruhnya ada karena biaya operasional industri naik. Jika itu terjadi, harga jual pun naik,” urai Dody.
 
Mengenai adanya pagelaran ajang pemilihan legislatif pada April 2014, Dody berpendapat, agenda tersebut tidak terlalu berpengaruh besar pada kemungkinan terjadinya inflasi. Dody berpendapat, ajang itu justru dapat membuat terjadinya peningkatan ekonomi pada masyarakat.
 
“Dana pemerintah mengalir ke setiap daerah yang efeknya dapat dirasakan masyarakat. Misalnya, adanya pemesanan berbagai atribut kampanye, baik kaos, spanduk, dan sebagainya,” tutup Dody. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.