Home » Ekonomi » Heryawan Tawarkan Paradigma Baru Zakat

Heryawan Tawarkan Paradigma Baru Zakat

heryawanJABARTODAY.COM – JAKARTA

Pendidikan dan kesehatan menjadi pilar bagi masyarakat untuk mengakses kantong peluang menuju hidup sejahtera. Karena, kedua sektor ini syarat untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul.

 

Terhadap kelompok warga yang tidak atau belum terjangkau program permberdayaan pemerintah, potensi zakat dapat dimanfaatkan. Melalui paradigma dan metode pengelolaan baru, zakat dapat dijadikan lokomotif kesejahteraan rakyat.

 

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengemukakan pokok pikirannya itu saat menjadi panelis Silaturahim Nasional (Silatnas) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) 2013 di Jakarta, Sabtu (21/12).

 

Silatnas bertema “Gerakan Ekonomi Baru Indonesia: Mobilisasi Akses untuk Kesejahteraan Rakyat”. Selain Gubernur Jabar, hadir panelis lain, seperti Prof. Dr. Nanat Fatah Natsir (ICMI, mantan Rektor UIN Bandung), KH. Slamet Effendy Yusuf (Nahdlatul Ulama), Dr. Haedar Nashir (Muhammadiyah), Dr. Tuti Alawiyah (As-Syafiiyah).

 

Heryawan menilai, pelaksanaan Asuransi Kesehatan Nasional (AKN) mulai 1 Januari 2014 merupakan kabar gembira bagi masyarakat kebanyakan. Saat program AKN digulirkan, sekitar 116 juta atau kurang-lebih 40 persen warga Indonesia bakal dijamin kesehatannya melalui asuransi. “Tapi tersisa 60 persen penduduk yang belum ter-cover. Tentu ini masih banyak, dan pemerintah harus mengupayakan mereka juga terjamin kesehatannya, khususnya ketika sakit. Tentu berbahaya bila kita membiarkannya,” papar Heryawan.

Terhadap warga yang belum terjangkau AKN, Heryawan memberi solusi. Menurutnya, potensi zakat salah satu solusi tepat agar sebagian besar, khususnya warga tidak mampu, segera terlindungi kesehatannya melalui asuransi. “Zakat yang dikelola secara baik dapat dialokasikan untuk membayar premi asuransi warga yang belum terjangkau asuransi kesehatan dimaksud,” urai Aher.

 

Memaparkan metode pemanfaatan zakat secara maksimal, Heryawan menilai, zakat seharusnya lebih fokus dialokasikan ke sektor produktif. Yakni, ungkapnya, dipakai untuk membuka akses seluas-luasnya kepada warga, khususnya usia sekolah, untuk memperoleh pendidikan. “Khusus di Jawa Barat, kita sekarang sedang mengupayakan agar seluruh warga minimal berpendidikan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Dengan pendidikan minimal ini, Insya Allah, kita akan memiliki SDM yang lebih unggul,” ucapnya.

 

Gubernur menegaskan, dengan pendidikan dan kualitas kesehatan yang baik, warga dapat mengakses sumber-sumber ekonomi untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan. “Bagaimana mungkin warga dapat memanfaatkan sumber daya alam dan akses perekonomian lain, bila pendidikan dan level kesehatannya rendah. Di sinilah peran pemerintah untuk mengadvokasi agar sebanyak mungkin warga mengakses sumber kesejahteraan,” tandas Aher. (AVD)

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.