Home » Ekonomi » Ekonomi Jabar Tumbuh Positif

Ekonomi Jabar Tumbuh Positif

Bank IndonesiaJABARTODAY.COM – BANDUNG

Sejumlah perkembangan ekonomi global terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Hal itu berdampak pada kinerja ekonomi Indonesia. Tandanya, terjadinya peningkatan tekanan neraca transaksi berjalan sejak triwulan IV dua tahun silam ketika pertumbuhan ekonomi domestik tumbuh positif.

Untuk menyikapi hal itu, Bank Indonesia beserta pemerintah, melakukan sejumlah langkah. Diantaranya, menerbitkan beberapa kebijakan, yang fokusnya menjaga stabilitas ekonomi. “Itu agar penyesuaian jangka pendek tetap terkendali, seperti inflasi, terjaganya nilai tukar, dan menekan defisit neraca transaksi berjalan hingga berada pada level yang sehat,” ujar Kepala BI Kantor Wilayah VI Jabar-Banten, Dian Ediana Rae, pada Pertemuan Tahunan BI 2013 di Kantor Bank Indonesia Wilayah VI Jabar-Banten, Kamis (12/12) malam.

Dian menyebut, langkah awal yang dilakukan BI untuk menjaga stabilitas, yaitu menyesuaikan BI Right, yang kini, berada pada level 7,5%. Kemudian, mencoba menstabilisasikan nilai tukar rupiah. Caranya, jelas dia, menjaga kecukupan likuiditas pasar keuangan. “Termasuk, menjaga kecukupan cadangan devisa, serta menghimbau para eksportir supaya melakukan konversi dolar-nya pada rupiah,” sambung Dian.

Untuk Jabar, Dian menyatakan, sejauh ini, kondisinya masih positif dan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Baiknya kondisi itu, terlihat pada beberapa hal, seperti dalam kinerja perbankan konvensional dan syariah.

Secara total, ungkapnya, aset perbankan konvensional di Jabar, hingga saat ini, mendominasi dunia perbankan Tatar Pasundan, yaitu 90,42%. Aset perbankan konvensional Jabar pada triwulan III 2013 tumbuh 18,25% atau nominalnya menjadi Rp 375,44 triliun.

Dana pihak ketiga (DPK) pun, sambungnya, naik 18,1% menjadi menjadi Rp 270,8 triliun. Begitu pula dengan likuiditas kredit, yang naik 25,2% atau tumbuh menjadi Rp 236,6 triliun.

Pertumbuhan positif juga dicatat perbankan syariah Jabar. Pada segmen itu, terang Dian, aset perbankan syariah kini berada pada angka Rp 27,5 triliun atau melejit 2,4%. “Pangsa pasar syariah di Jabar melebihi nasional, yang hanya 4,5 persen, yaitu 6,8 persen,” imbuhnya.

Mengenai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Dian mengutarakan, agar sektor itu dapat terus berkembang, perlu adanya pengawalan melalui fungsi mediasi perbankan. Jadi, perbankan tidak hanya melakukan penyaluran kredit, tetapi pendampingan.

Tentang kredit UMKM, Dian memaparkan, hingga Triwulan III 2013, kredit UMKM tumbuh 21,6%. Nilainya Rp 64 triliun. Angka itu berarti kredit UMKM sebesar 27% total kredit di Jabar.

Indikator positifnya ekonomi Jabar, sahut Dian, juga terlihat pada likuiditas transaksi uang kartal dan non-tunai yang tergolong besar. Menurutnya, pada September 2013, outflow di Jabar senilai Rp 19,7 triliun. Angka itu lebih rendah daripada inflow yang nilainya Rp 38,3 triliun.

“Sementara transaksi non-tunai, seperti kliring dan RTGS, nilainya pun besar. Masing-masing bernilai Rp 48,3 triliun dan Rp 290,6 triliun. Itu berarti terjadi kenaikan 12,7 persen dan 2,7 persen,” tandasnya. (VIL)

Komentar

komentar