Home » Ekonomi » Harga Jual Kedelai Tergantung Importir

Harga Jual Kedelai Tergantung Importir

Kesibukan pekerja di pabrik tahu membersihkan kedelai. Kelangkaan kedelai mengancam kelangsungan nasib mereka. (ILUSTRASI)

Kesibukan pekerja di pabrik tahu membersihkan kedelai. Kelangkaan kedelai mengancam kelangsungan nasib mereka. (ILUSTRASI)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat mengalami pelemahan. Saat ini, posisi rupiah berada di level Rp 12.000/US dollar. Namun, ternyata, kondisi itu tidak terlalu berpengaruh pada harga kedelai impor.

“Kalau melihat kondisinya, seharusnya, harga jual kedelai impor turut naik. Tapi, yang terjadi, harga jual kedelai pada tingkat importir belum naik, masih sekitar Rp 8.075 per kilogram,” ujar Asep Nurdin, Ketua DPD Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia Jawa Barat, Selasa (3/12).

Karena tidak adanya kenaikan harga pada tingkat importir, lanjut Asep, harga jual kedelai pada level distributor, perajin, dan penjual pun mengalami hal yang sama. Saat ini, harga jual komoditi itu pada tingkat distributor, sekitar Rp 8.300/kg. “Sedangkan untuk perajin dan pedagang, harga jualnya Rp 8.500-8.600 per kilogram,” sambung Asep.

Menurutnya, seiring dengan pelemahan rupiah, idealnya, harga jual kedelai pada tingkat pedagang atau perajin senilai Rp 9.000/kg. Akan tetapi, jelasnya, karena pada tingkat importir tidak berubah, otomatis harga jual pada tingkat perajin dan pedagang pun tetap.

Dijelaskan, tidak naiknya harga jual kedelai tersebut karena belum adanya intervensi pemerintah. Artinya, kalangan importir-lah yang menetapkan harga jual. “Jika mereka (importir) masih meraup untung, tentunya, tidak menaikkan harga. Tapi, jika merasa keuntungannya berkurang, bisa jadi, mereka menaikkan harganya,” papar Asep.

Berbicara tentang volume, Asep menyatakan, pada dasarnya, ketersediaan mencukupi. Itu karena, terangnya, impor kedelai mencapai 120 ribu ton. Namun, Asep menyayangkan, produksi kedelai lokal yang masih sangat minim.Ini berarti kedelai impor mendominasi pemenuhan kebutuhan. Hampir 90%, pemenuhan kebutuhan kedelai melalui impor. Sisanya, kedelai lokal.

Pada sisi lain, Asep bependapat, belum naiknya harga jual kedelai pada tingkat importir berpotensi menyebabkan para pedagang dan perajin ketar-ketir. Itu dapat terjadi apabila para importir menaikkan harga jualnya. “Jika harga jual naik, apalagi signifikan, tentunya, hal itu dapat berefek pada daya beli masyarakat. Imbasnya, kinerja penjualan pun dapat terganggu,” tutup Asep. (VIL)

Komentar

komentar