Home » Ekonomi » Jelang AEC 2015 Jabar Wajib Perkuat Infrastruktur

Jelang AEC 2015 Jabar Wajib Perkuat Infrastruktur

Ketua Kadin JabarJABARTODAY.COM – BANDUNG

Sejak era pasar bebas bergulir, persaingan ekonomi semakin ketat. Salah satu unsur penting dalam menunjang terciptanya pertumbuhan, yaitu adanya ketersediaan sarana infrastruktur.

“Bagi Jawa Barat, ketersediaan infrastruktur merupakan hal sangat penting untuk menyikapi persaingan yang ketat. Terlebih, dalam waktu yang tidak lama lagi, Indonesia terlibat dalam ASEAN Economic Community. Pastinya, persaingan pun makin kompetitif,” ujar Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jabar Agung Suryamal Soetisno, pada acara Menghadapi AEC 2015 yang digelar Forum Ekonomi Jabar, Kamis (14/11).

Agung berpendapat, hingga kini, infrastruktur masih menjadi titik lemah Jabar. Jadi, bagi Jabar, ketersediaan sarana infrastruktur yang tergolong penting bukan hanya berupa akses jalan untuk transportasi darat, tetapi juga pelabuhan laut dan bandara. Pasalnya, jelas dia, infrastruktur yang mumpuni dapat membuat sistem pendistribusian dan logistik menjadi lebih efektif dan efisien.“Usul pembangunan Bandara Kertajati tercetus pada 2006. Tapi, tidak mudah untuk merealisasikannya. Alhamdulillah, berkat dukungan kalangan pengusaha, pemerintah siap merealisasikan bandara itu. Harapannya, bandara itu dapat beroperasi dalam 2-3 tahun mendatang,” paparnya.

Sedangkan pelabuhan laut, tambahnya, Jabar sangat membutuhkannya dalam aktivitas perdagangan luar negeri atau ekspor impor. Menurutnya, saat ini, Jabar mengandalkan Tanjung Priok sebagai pintu ekspor impor, yang sekitar 60% merupakan komoditi asal dan untuk Jabar. Namun, saat ini, kondisi Tanjung Priok sudah sangat penuh.

Karenanya, Jabar membutuhkan pelabuhan laut yang komprehensif. Adalah Cilamaya, Karawang, yang menjadi asa Jabar sebagai pelabuhan laut. “Saat ini, rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya sudah menjadi agenda pemerintah, yaitu Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional),” ucap Agung.

Namun, agar dapat lebih berdaya saing, tambahnya, Jabar tidak hanya butuh infrastruktur yang mumpuni. Butuh aspek penunjang lain, termasuk sisi pemerintah. Ia meminta pemerintah dapat melakukan berbagai pembenahan yang tentunya, menunjang sekaligus menjadi pendorong ekonomi.

Satu diantaranya, sebut Agung, dalam hal regulasi. Sejauh ini, ia memandang, masih banyak regulasi yang dikeluhkan dunia usaha. “Tidak ada salahnya, pemerintah daerah, baik provinsi maupun kota-kabupaten, memangkas regulasi-regulasi yang memberatkan. Jika itu dilakukan, tentunya, tercipta efisiensi. Tidak itu saja, Jabar pun dapat memiliki daya tarik yang lebih besar lagi bagi para investor,” urai Agung.

Hal lain yang juga sebaiknya mendapat perhatian yaitu soal ketenagakerjaan. Saat AEC bergulir, persaingan tenaga kerja pun dimulai. Artinya, terang Agung, terbuka peluang bagi para tenaga kerja asing, yang perkiraannya, mencapai ribuan, bahkan mungkin, ratusan ribu orang, asal beberapa negara ASEAN untuk bekerja di Indonesia. “Kondusivitas sektor tenaga kerja perlu dijaga. Itu supaya tenaga kerja lokal punya daya saing yang lebih tinggi lagi,” tutup Agung. (VIL)

Komentar

komentar