Home » Ekonomi » OCBC NISP Terus Genjot Nasabah

OCBC NISP Terus Genjot Nasabah

NISP2JABARTODAY.COM – BANDUNG

Meningkatkan jumlah nasabah menjadi salah satu opsi yang dipilih PT Bank OCBC NISP Tbk. Lembaga perbankan yang berdiri di Bandung pada dekade 1940-an itu terus melakukan berbagai upaya untuk menambah jumlah nasabahnya. Hingga akhir tahun, Bank OCBC NISP optimis mampu menambah jumlah nasabahnya hingga 5.000 orang. Optimisme itu diletupkan Consumer Secured Load Distribution Head Metro Bandung Krisna Widia.

Rasa itu timbul didasari tinggi dan berkembangnya potensi di Bandung Raya. Dia memprediksi, pihaknya mampu mencatat pertumbuhan nasabah yang stabil hingga akhir tahun. “Yaitu, sekitar 400 nasabah setiap bulannya,” ujar Krisna pada sela-sela Workshop Pengelolaan Dana Bijak di SMA Taruna Bakti.

Menurutnya, kenaikan rata-rata sekitar 400 nasabah setiap bulannya di wilayah kerjanya itu merupakan pencapaian selama kurun waktu Januari-Oktober 2013. Dia menilai, hal tersebut merupakan sebuah langkah untuk mendongkrak kinerja, tidak hanya dana pihak ketiga (DPK), tetapi juga likuiditas kredit. “Tiap tahunnya, rata-rata kenaikan DPK kami sekitar 30 persen,” sebut dia.

Berdasarkan data, secara nasional, selama Januari-September 2013, pertumbuhan DPK PT Bank OCBC NISP sekitar 17%, yaitu semula Rp 53,6 triliun pada Januari-September 2012 menjadi Rp 62,8 triliun. Di Bandung Raya, lembaga perbankan itu meraih pangsa pasar DPK sekitar 20%.

Komposisi DPK, tambahnya, khusus di Bandung Raya, berimbang antara dana murah dan dana mahal, yaitu masing-masing 50 persen. Itu, kata dia, merupakan komposisi ideal ketika Bank Indonesia terus melakukan penyesuaian suku bunga acuan atau BI Rate, yang saat ini berada pada level 7,25%.

Salah satu upaya menaikkan DPK, ungkapnya, yaitu membidik kalangan pelajar. Misalnya, melalui program Corporate Social Responsibility Workshop Pengelolaan Dana Bijak yang bergulir SMA Taruna Bakti. “Kami punya program tabungan bagi pelajar. Responnya cukup positif,” klaim Krisna.

Mengenai kinerja secara keseluruhan, Krisna menyatakan, kondisinya menunjukkan tren positif meskipun rupiah masih belum stabil. Hal itu terlihat pada aset yang tumbuh tumbuh 24%, dari semula Rp 71,436 triliun menjadi Rp 88,548 triliun.

Laba bersih pun, imbuhnya, naik 28% atau menjadi Rp 838 miliar. Lalu, kredit pun meningkat 21%, yang hingga September 2012 bernilai Rp 50,517 triliun naik menjadi Rp 61,188 triliun pada triwulan III tahun ini. (VIL)

Komentar

komentar