Home » Ekonomi » Tahun Depan, Ekonomi Jabar Makin Berat

Tahun Depan, Ekonomi Jabar Makin Berat

Anggota Dewan Pakar Forum Ekonomi Jawa Barat, Teti Armiati Argo, menerangkan kondisi ekonomi Jabar tahun depan di Seminar Outlook 2014 dan Menyikapi Tantangan AEC 2015 yang digelar jabartoday.com  di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang 45 Bandung, Rabu (6/11). Selain Teti, hadir Ketua Apindo Jabar Deddy Widjaya, direksi bank bjb, serta perwakilan Disnakertrans Jabar. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Anggota Dewan Pakar Forum Ekonomi Jawa Barat, Teti Armiati Argo, menerangkan kondisi ekonomi Jabar tahun depan di Seminar Outlook 2014 dan Menyikapi Tantangan AEC 2015 yang digelar jabartoday.com di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang 45 Bandung, Rabu (6/11). Selain Teti, hadir Ketua Apindo Jabar Deddy Widjaya, direksi bank bjb, serta perwakilan Disnakertrans Jabar. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Sejak beberapa bulan terakhir, kondisi ekonomi dunia terguncang. Hal itu berimbas pada neraca ekonomi nasional. Satu diantaranya, terjadinya pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Melihat kondisi itu, berbagai kalangan memprediksi bahwa situasi dan iklim ekonomi nasional, termasuk Jawa Barat, pada tahun depan berpotensi lebih sulit daripada 2013. Itu terjadi seiring dengan kondisi ekonomi yang belum juga kondusif, utamanya, dalam hal regulasi dan perbaikan serta pengembangan sarana infrastruktur yang tidak jelas.

“Kemungkinannya, ekonomi Jabar tahun depan dapat sangat berat. Iklimnya kian tidak kondusif,” ujar Anggota Dewan Pakar Forum Ekonomi Jabar, Teti Armiati Argo, di sela-sela Seminar Economic Outlook 2014 & Menyikapi Tantangan AEC 2015 yang digelar jabartoday.com di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang 45 Bandung, Rabu (6/11).

Menurutnya, sejumlah faktor menjadi pemicu iklim ekonomi Tatar Pasundan pada 2014 tetap, bahkan kian berat. Misalnya, efek krisis ekonomi global. “Hal lainnya, masih tidak membaiknya infrastruktur. Ini (infrastruktur) masih menjadi satu di antara sekian banyak hal yang cukup berpengaruh pada perkembangan ekonomi Jabar,” papar dia.

Faktor berikutnya, imbuh dia, regulasi dan kebijakan pemerintah yang cukup berbelit dan kurang efektif serta efisien, seperti birokrasinya yang panjang. Tentunya, sambung dia, hal tersebut dapat berimbas pada iklim investasi. “Tidak tertutup kemungkinan, hal tersebut membuat para investor menunda keinginan dan rencananya berinvestasi di Jabar. Jika itu terjadi, tentunya, merugikan Jabar,” jelasnya.

Menurutnya, beratnya tantangan ekonomi Jabar terassa sejak awal tahun ini. Indikasinya, terang dia, terdapatnya sejumlah industri yang melakukan relokasi dari Jabar ke daerah lain. “Di Cikarang dan Delta Mas, sekitar 10 perusahaan besar lakukan relokasi ke beberapa daerah lain, seperti Tegal, Pekalongan, dan Brebes,” katanya.

Bahkan, ungkapnya, ada juga perusahaan yang bergerak pada sektor elektronik di Jabar, yang relokasi ke Vietnam. Adanya relokasi-relokasi itu sebagai efek situasi ekonomi ditambah infrastruktur Jabar yang tidak membaik.

Melihat kondisi itu, jika pada 2014 situasinya tidak mengalami perubahan, perkiranannya, cukup banyak industri di Jabar yang kembali melakukan relokasi, meskipun, tidak secara massal. Padahal, sesal Tetty, Jabar sudah menarik perhatian para investor asal berbagai negara, satu diantaranya, Jepang, yang kabarnya, bersiap merelokasikan beberapa industrinya ke Jabar.

Kendati sulit, sahut dia, ekonommi Jabar tetap tumbuh. Akan tetapi, tambahnya, pertumbuhannya lebih lambat. Perkiraannya, pertumbuhan ekonomi Jabar pada 2014 sekitar 5,8 persen. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.