Home » Ekonomi » Soal Kopi, Jabar Siap Garap Pasar AS

Soal Kopi, Jabar Siap Garap Pasar AS

kopiiJABARTODAY.COM – BANDUNG

Selama beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika Serikat. Idealnya, kondisi itu memberi efek positif bagi para eksportir. Namun, ternyata, para eksportir kopi yang tergabung dalam Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia tidak merasakan efek positif pelemahan rupiah.

Ketua DPP AEKI, Irfan Anwar, menyebut, mengekspor kopi saat ini, justru kondisinya kurang positif. “Saat ini, harga jual kopi drop. Angkanya  25 ribu rupiah perkilogram. Jadi, saat ini, marginnya relatif kecil,” ujar Irfan pada sela-sela Pelantikan DPD AEKI Jabar di Grand Royal Panghegar, Senin (1/10).

Menurutnya, turunnya harga kopi internasional karena beberapa hal, diantaranya, jelas dia, efek pasokan dan permintaan. Harga jual saat ini, kata Irfan, jauh lebih kecil daripada 2010-2012, yang merupakan harga tertinggi, yaitu Rp 60 ribu/kg. Padahal, pada 2010-2012, permintaan tetap tinggi walau beberapa negara zona EURO dan AS terkena krisis.

Turunnya harga jual kopi internasional, sambung Irfan, membuat para eksportir memaksimalkan pasar dalam negeri. Menurutnya, pasar domestik memiiki potensi besar. “Seiring dengan bertumbuhnya kedai kopi, konsumsi kopi nasional mengalami peningkatan yang positif,” ungkapnya.

Opsi lain sebagai dampak melemahnya harga jual kopi, Irfan menegaskan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi kopi nasional. Sejauh ini, sebutnya, volume produksi kopi nasional sebesar 530 juta ton per tahun atau 2,6 ton per hektare setiap tahunnya.

Sayangnya, sesal dia, produk kopi tatar Pasundan masih kecil. Volumenya sekitar 2,3 ton/hektare atau sekitar 1.000-3.000 ton/tahun. Padahal, secara kualitas, kopi Jabar dapat bersaing dengan kopi Medan atau Bali. Baiknya kualitas itu dikarenakan Jabar memiliki banyak daerah berdataran tinggi.

Sebenarnya, Jabar dapat menggenjot produktivitas kopi karena memiliki lahan seluas 8.700 hektare. “Tapi, hanya 10 persen yang merupakan milik petani rakyat. Sisanya, merupakan lahan Perhutani,” ucap Irfan.

Upaya-upaya meningkatkan produktivitas kopi itu, seperti diutarakan Irfan, melalui intensifikasi dan ekstensifikasi lahan. Ditambah dengan dukungan pemerintah melalui penyediaan 5 juta bibit kopi.

Tidak itu saja, tambah Irfan, pihaknya pun berupaya untuk melakukan ekspor kopi Jabar secara langsung. Caranya dengan melakukan branding Java Preanger Coffee. “Perizinannya masih proses, tapi hampir tuntas. Kami proyeksikan, tahun depan, Jabar dapat mengekspor kopi,” beber Irfan.

Jika ekspor langsung terwujud, Irfan menyebut beberapa negara dan kawasan potensial, seperti Amerika Serikat. “Termasuk negara-negara Uni Eropa, yang terdiri atas 36 negara. Dasarnya, konsumsi dan kebutuhan kopi di negara-negara itu tergolong tinggi,” tutup Irfan. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.