Home » Ekonomi » Indonesia Butuh Branchless Banking

Indonesia Butuh Branchless Banking

DimitriJABARTODAY.COM – BANDUNG

68% dari 246,9 juta penduduk Indonesia belum memiliki rekening perbankan, sementara 80,4% penduduk berusia 15 tahun ke atas tidak memiliki akun sektor keuangan formal, sehingga diperlukan terobosan layanan perbankan ke masyarakat.

Chairman Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Dr. Dimitri Mahayana, mengungkapkan, Bank Indonesia pada tahun 2011 juga menyebutkan jika 52% dari rumah tangga di Indonesia belum memiliki simpanan di lembaga keuangan. “Di sisi lain, sudah tercipta kesenjangan finansial yang besar karena jumlah pengguna kartu kredit, internet banking, dan mobile banking di Indonesia tahun 2013 tumbuh pesat, masing-masing 14,67 juta pengguna, 5,7 juta, dan 16,5 juta,” katanya dalam workshop Branchless Banking Revolution 2014, Sabtu (28/9).

Dilihat dari pasokan perbankan, 36% bank di Indonesia sudah menyiapkan e-money, mobile banking (73%), kartu debit (95%), maupun internet banking (82%). Akan tetapi, pertumbuhan pesat ini hanya terjadi di kota-kota besar di Indonesia. “Kalau mau dilihat secara keseluruhan, masih lebih banyak rakyat yang butuh tapi tidak tercakup layanan. Butuh bawa uang pensiunan misalnya, tapi harus naik perahu dulu pindah pulau, gajinya tidak seberapa tapi biaya perjalanan bisa Rp 100 ribu,” ujarnya.

Karena itulah, Dimitri memandang, diperlukan terobosan berupa branchless banking, yakni perluasan layanan keuangan tanpa bergantung keberadaan kantor cabang bank. Jadi, prinsip dasarnya agen perbankan yang bergerak pro aktif mendatangi nasabah terutama yang lokasinya terisolir.

Di sisi lain, konsep branchless bangking juga mengadopsi layanan telekomunikasi paling awam (seperti SMS yang bisa dijalankan di feature phone/ponsel paling dasar), sehingga kendala jarak dan waktu bisa disiasati dengan implementasi teknologi informasi.

Sejumlah negara ketiga yang lebih miskin dari Indonesia terbukti sejak lama berhasil menerapkan branchless banking. Mereka antara lain M-Pesa di Kenya, bKash (Bangladesh), Mobile Money, BSP Rural (Papua New Guinea), dan Grameen Bank (Pakistan).

“Di Kenya, nilai transaksi hariannya sudah 50 juta dollar atau sekitar 575 miliar per hari dengan pendapatan tahunan 2013 Rp 2,83 triliun. Jumlah agennya sudah mencapai 65.547 orang, mayoritas transaksi dijalankan melalui SMS,” ungkapnya.

Layanan hasil kerjasama operator seluler dan perbankan di Kenya, Safarimcom, dan Citibank, memungkinkan transfer dikirim via SMS lalu proses penarikan dilakukan agen dengan sistem jemput bola ke pelosok sekalipun hanya menggunakan sepeda. Masyarakat juga bisa menyetor tabungan ke agen tersebut, bahkan mereka tak perlu punya rekening perbankan, cukup mendaftar untuk memiliki user ID di M-Pesa. Dari akun inilah, seluruh proses transaksi dijalankan oleh kedua pihak.

“Kita bisa bercermin di Indonesia yang berpulau-pulau dan tersebar luas, tingkat kebutuhannya jauh lebih tinggi dari Bangladesh dan Pakistan. Tapi sayangnya belum ada yang mau berusaha serius memberikan revolusi layanan keuangan demi rakyat Indonesia,” keluhnya.

Secara makro, mengutip data Deputi Pembiayaan Kementerian KUKM, Meliadi Sembiring, baru 30% dari 56,54 juta KUKM di Indonesia yang sudah mengakses pembiayaan perbankan. Padahal, potensi pasar branchless banking-nya sampai 39,6 juta. “Sejauh ini, bukan berarti perbankan Indonesia dan operator seluler cuek. Sudah ada upaya, namun kurang bersungguh-sungguh. Mayoritas paradigmanya menilai branchless banking sekedar perluasan channel, bukan sebagai sarana menyejahterakan rakyat,” imbuh Dimitri.

Di sisi lain, ujar Dimitri, ada lima persoalan makro yang membuatnya belum berkembang. Pertama, regulasi yang spesifik memang belum ada, terutama dari Bank Indonesia. Kedua, sinergi perbankan dan operator seluler masih lemah, cenderung jalan masing-masing.

Ketiga, inisiatif dan insentif relatif masih kurang, malah cenderung asyik di zona nyaman masing-masing industry. Keempat, persepsi pelaku masih sempit. Dan terakhir, kualitas eksisting layanan belum optimal, sehingga layanan tidak booming. “Contohnya kami pernah coba layanan sejenis dari operator seluler, dari daftar hingga punya akun branchless banking, itu perlu waktu sampai empat hari. Makanya orang malas duluan, padahal dari sisi teknologi kan tidak sulit,” tutupnya. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.