Home » Ekonomi » Mandiri Genjot Dana Murah

Mandiri Genjot Dana Murah

mandiriJABARTODAY.COM – BANDUNG

Dalam beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia (BI) melakukan penyesuaian suku bunga acuan atau BI Rate. Semula, BI Rate berada pada level 5,75 persen. Seiring dengan adanya kondisi global, otoritas perbankan tertinggi di Indonesia itu menaikkan BI Rate menjadi 6,00 persen.

 
Beberapa pekan berikutnya, pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, BI kembali menaikkan BI Rate menjadi 6,50 persen. Terakhir, ketika terjadi pelemahan rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS), BI menaikkan BI Rate menjadi 7,00 persen.
 
Kepala PT Bank Mandiri Tbk Regional Jabar Hadiyono, berpendapat, penyesuaian BI Rate itu untuk mengimbangi terjadinya inflasi sebagai efek kenaikan BBM subsidi dan pelemahan rupiah. Menurutnya, naiknya suku bunga acuan BI itu berpotensi membuat likuiditas perbankan melambat. Sebaliknya, lanjut dia, harapannya, kenaikan BI Rate itu dapat menggenjot dana simpanan.
 
“Karenanya, kami terus menggenjot dana simpanan. Adalah dana murah yang terus kami dorong untuk meningkat,” tandas Hadiyono usai Workshop Wirausaha Mandiri bagi 43 perguruan tinggi Bandung, di Aula Universitas Padjadjaran (Unpad), Jalan Dipatiukur Bandung, Kamis (26/9).
 
Hadiyono menegaskan, pihaknya optimis bahwa kebijakan BI untuk menaikkan BI Rate tidak menghambat kinerja dan performa lembaga perbankan milik BUMN tersebut, termasuk di wilayah Jabar. Harapannya, ucap dia, dana simpanan, khususnya, dana murah, menjadi back bone pihaknya guna meningkatkan performa bisnis hingga akhir 2013.
 
Hadiyono menambahkan, di tatar Pasundan, pihaknya menyerap pangsa pasar DPK sebesar 12 persen. Nilainya hingga Juni 2013 sejumlah Rp 21-22 triliunKomposisinya, ungkap Hadiyono, 70 persen dana murah, yang terdiri atas tabungan dan giro. Sisanya, dana mahal, yaitu deposito. Pihaknya optimis, hingga akhir tahun, jumlah DPK dapat menyentuh angka Rp 25 triliun, atau tumbuh 20 persen lebih tinggi daripada tahun lalu.
 
Tentang kredit, Hadiyono menyatakan, terjadi pertumbuhan pangsa pasar, yang semula 7 persen menjadi 8 persen. Hingga paruh tahun 2013, nilai kredit mencapai Rp 16 triliun. Angka itu, sahut dia, diserap berbagai sektor, termasuk para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (VIL)
 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.