Home » Ekonomi » Sektor Manufaktur Nasional Belum Kuat

Sektor Manufaktur Nasional Belum Kuat

tokohmuda.com

tokohmuda.com

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Keberadaan sektor manufaktur untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi memiliki peran besar. Akan tetapi, sampai saat ini, sektor manufaktur nasional masih belum kuat. Padahal untuk berdaya saing, Indonesia harus memiliki ekonomi yang kuat.

“Dukungan sektor manufaktur dapat menunjang. Tapi, sampai kini, sektor itu masih belum kuat,” ujar Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan, dalam Kuliah Umum di Institut Teknologi Bandung, Senin (29/4).

Padahal, sambung Gita, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan sektor manufaktur. Selama ini, kekuatan ekonomi nasional terdapat pada sektor non-manufaktur, seperti rokok, kelapa sawit, dan minyak goreng. Karenanya, guna mendongkrak sektor itu, perlu adanya pemanfaatan teknologi.

“Sayangnya, sejauh ini pemanfaatan teknologi masih belum optimal,” keluhnya.

Gita lalu mencontohkan Korea Selatan. Menurutnya, beberapa dekade silam, negeri ginseng itu tingkat pemanfaatan baja untuk manufaktur sangat rendah, yakni 20 kilogram/orang/tahun.

“Kini, mencapai 200 kilogram per orang setiap tahunnya. Itu menunjukkan, Korea berhasil memaksimalkan teknologinya sehingga menjadi sebuah negara maju dan salah satu raksasa ekonomi Asia,” paparnya.

Idealnya, seperti diutarakan Gita, agar manufaktur dapat menjadi kekuatan ekonomi, Indonesia harus mampu meningkatkan pemanfaatan baja. Caranya dengan menaikkan kapasitas produksi baja. Sampai saat ini, PT Krakatau Steel belum produksinya masih sekitar 3 juta ton/tahun.

“Idealnya, produksi mencapai 125 juta ton,” tukas mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal itu.

Namun, dibutuhkan dana besar untuk meningkatkan kapasitas produksi baja nasional. Untuk setiap ton baja per tahun, ungkap Gita, dibutuhkan investasi yang luar biasa, sekitar US$ 1 miliar. Hal lain yang dibutuhkan adalah dukungan dan intervensi pemerintah. Dalam hal ini, regulasi, semisal kebijakan fiskal.

“Tidak sedikit eksportir yang sulit memperoleh fasilitas kredit ekspor. Selain itu, suku bunga yang tinggi jadi hambatan,” tandasnya. (VIL)

Komentar

komentar