Penyesuaian Premium Tiap Dua Pekan Repotkan Sektor Transportasi

Aldo F Wiyana (jabartoday.com/net)
Aldo F Wiyana
(jabartoday.com/net)

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Belum lama ini, pemerintah mencetuskan sebuah rencana berkenaan dengan harga jual bahan bakar minyak (BBM), yaitu premium dan solar. Rencananya, pemerintah melakukan penyesuaian harga dua komoditi BBM tersebut dalam rentang waktu setiap dua pekan per bulannya.

Tentu saja, rencana itu mendapat beragam reaksi, khususnya, para pelaku usaha jasa transportasi. “Rencana tersebut bisa merepotkan. Jika penyesuaian harga BBM setiap dua pekan satu kali, kami sulit menentukan tarif angkutan,” tandas Ketua Dewan Pertimbangan DPD Organisasi Angkutan Darat (ORGANDA) Jabar, Aldo F Wiyana, Jumat (9/1).

Diutarakan, selama ini, para pelaku usaha jasa transportasi, dalam menetapkan tarif, bergantung pada penyesuaian harga jual BBM. Untuk menentukannya, lanjut dia, butuh waktu yang tidak sebentar. Setidaknya, jelas dia, penetapan sebuah tarif butuh waktu, minimalnya 2 pekan. Bahkan, dapat mencapai 1 bulan.

Kondisi itu, sambung dia, jelas berbeda dengan jenis angkutan lain. Katakanlah, sebut dia, angkutan udara. Untuk angkutan udara, jelas dia, penyesuaian tarif dapat berlangsung setiap saat. Bagi konsumennya, tambah dia, hal itu bukan menjadi permasalahan. “Nah, kalau angkutan darat, seperti bus, angkot, dan sebagainya, bagaimana? Tentunya, tidak mudah menentukannya,” sahut Aldo.

Terlebih, ucap dia, fungsi dan keberadaan terminal, utamanya, di Kota Bandung, nyaris mati. Hampir 100 persen pengguna jasa angkutan naik bukan di terminal, melainkan pada ruas jalan. Lokasi berhenti dan turunnya penumpang pun berbeda-beda. Karenanya, seru dia, daftar tarif angkutan darat, contohnya, angkot, bisa panjang sekali.

Memang, imbuh dia, penetapan tarif dapat melalui tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB). Meski demikian, ujarnya, tetap tidak mudah untuk menyosialisasikan dan menginformasikannya kepada publik. “Sisi lainnya, pemerintah berjanji memberi insentif bagi para pelaku usaha angkutan darat. Tapi, sampai kini, belum terealisasi,” kata Aldo.

Melihat kondisi itu, Aldo mengajukan saran. Isinya, jelas dia, tarif BBM, yaitu premium dan solar khusus bagi angkutan umum, harganya tetap, tidak mengalami penyesuaian seperti rencana pemerintah tersebut. Soal kuota, lanjut dia, pengaturannya dapat menggunakan Radio Frequency Identification (RFId).  (ADR)

 

Related posts