Paket Kebijakan III Terbit, Sektor UKM Bisa Bangkit

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Berbagai upaya dan strategi terus dilakukan pemerintah untuk menyikapi perekonomian nasional yang sejak beberapa bulan terakhir, mengalami perlambatan pertumbuhan, yang satu di antaranya, merupakan efek depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di antaranya, menerbitkan paket-paket kebijakan.

Beberapa waku lalu, Presiden Republik Indonesia (RI) ke-7, Joko Widodo (Jokowi), menerbitkan paket kebijakan tahap I dan II. Yang terakhir, mantan Gubernur Jakarta tersebut menerbitkan paket kebijakan terbarunya, yaitu jilid III. Sebagai wadah dunia usaha, Kadin Indonesia berharap, kondisi tersebut penguatan rupiah sebagai sinyal positif ekonomi nasional. “Ini adalah momentum. Tapi, tentunya, harus mendapat dukungan pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya yang efisien, efektif, dan tepat sasaran,” tandas Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Perkasa Reoslani, belum lama ini.

Rosan berpendapat, Paket Ekonomi III, yang di antaranya, menekan biaya industri, semisal potongan tarif pemakaian listrik pukul 23.00-08.00 hingga 30 persen, merupakan hal positif. Hal itu, jelasnya, berkaitan dengan program-program yang diusungnya, yaitu menjadikan sektor industri sebagai fondasi ekonomi nasional.

Soal usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lanjut Rosan, pemerintah pun
menunjukkan sikap yang berpihak pada sektor tersebut. Diutarakan, satu di antaranya, dalam hal pembiayaan, yang seringkali menjadi kendala para pelaku UMKM. Bentuknya, jelas dia, memangkas suku bunga pinjaman. “Turunnya, suku bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat), yang semula 22 persen, kini 12 persen, menjadi hal yang positif. Itu dapat meringankan para pelaku UMKM. Soal KUR, pemerintah pun perlu mendorong penyerapannya supaya lebih cepat. Itu karena, penyerapan KUR masih relatif lambat,” paparnya.

Berkaitan dengan pengembangan industri kreatif, Rosan menyatakan, seperti halnya bisnis lain, sektor ini pun perlu mendapat dukungan. Menurutnya, sektor-sektor UMKM dan industri kreatif, yang selama ini porsinya porsi kecil, harus ikut mendapat dorongan. Soalnya, sektor-sektor itu punya ketangguhan menyikapi gejolak pasar global.

Dia menilai imbas gejolak global tidak begitu menyentuh sektor UMKM dan
industri kreatif. Memang, katanya, sektor itu berskala kecil dan
kontribusinya terhadap ekonomi nasional masih rendah, tidak mencapai 5 persen. Akan tetapi, tegas dia, UMKM dan industri kreatif dapat menjadi andalan.

Khusus Bandung dan Jabar, Rosan menilai, secara umum, dua titik itu merupakan pusat industri kreatif dan UMKM nasional. Bandung, kata Rosan, misalnya, sudah lama terkenal sebagai pusat kreativitas desain, fashion, arsitektur, film, video, radio, musik, teknologi perangkat lunak, seni rupa, dan lainnya. Selain itu, imbuh dia, Bandung pun terkenal sebagai kota jasa, kiblatnya, wisata kuliner, trend setter dunia mode.

Namun, industri kreatif dan UMKM pun punya tantangan. Yaitu, pendapat dia,
minimnya kebijakan yang mendukung iklim kreasi, seperti perizinan,investasi, permodalan, dan perlindungan hak cipta. Lainnya, tambah dia, industri kreatif yang acapkali berskala home industry masih belum bersinergi guna memperkuat posisi
tawar.

Sektor UMKM, Rosan menyatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2014, Jabar menempati urutan kedua jumlah dan jenis UKM per desa-kelurahan. Totalnya, 16.405 unit. Tertinggi adalah industri makanan dan minuman, sebanyak 4.023 unit, lalu industri olahan kayu sebanyak 3.987 unit, kemudian, industri anyaman 2.266 unit, industri keramik 1.828 unit, dan konveksi serta tenunan 1.779 unit. (ADR)

Related posts