Menjaring Preman Jelang Lebaran

kompol arief fitriyanto-1Oleh Kompol Arief Fitriyanto SH, SIK
Perwira Sespimen Angkatan 55 Tahun 2015
 
Lebaran tinggal beberapa pekan lagi. Aktivitas masyarakat pun terus mengalami peningkatan. Tingginya aktivitas masyarakat tersebut seringkali dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggungjawab untuk mencari keuntungan. Salah satunya kelompok preman yang sering membuat masyarakat merasa terganggu keamanannya. Aksi para preman tersebut banyak terjadi di masyarakat, seperti di pusat perbelanjaan (mal), pasar tradisional, terminal, stasiun, dan pusat-pusat kegiatan ekonomi masyarakat lainnya.

Salah satu langkah yang dilakukan jajaran Polrestabes Bandung dalam menekan angka kriminalitas yang dilakukan para preman jalanan yaitu dengan menggelar razia.  Polrestabes menggerakkan seluruh personelnya hingga ke tingkat polsek untuk menjaring para preman jalanan tersebut. Dalam razia tersebut polisi mengamankan 240 orang preman yang disinyalir kerap memalak warga. Mereka terjaring dalam operasi yang digelar Polrestabes Bandung di 29 titik Polsek yang ada. Dari jumlah tersebut hanya 11 orang yang diproses hukum. Para preman yang diproses secara hukum ini biasanya mereka yang kedapatan membawa alat kejahatan serta bukti kejahatan.

Pasal yang dikenakan kepada mereka pun bermacam-macam sesuai dengan kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan.  Razia terhadap para preman ini merupakan bagian dari tugas polisi dalam menciptakan rasa aman di masyarakat. Menjelang lebaran seperti sekarang ini, rasa keamanan masyarakat seringkali terganggu oleh ulah para preman. Aksi mereka cukup beragam, umumnya mereka melakukan pemerasan dan pemalakan terhadap masyarakat yang tengah beraktivitas di lapangan. Kadang kala aksi mereka ini disertai dengan ancaman, baik menggunakan kata-kata bahkan dengan senjata tajam. Jika sudah demikian, masyarakat pun merasa terganggu aktivitasnya.

Persoalan premanisme tak hanya dialami oleh Kota Bandung. Hampir setiap kota besar di Indonesia dihadapkan dengan persoalan premanisme. Biasanya praktik premanismes ini muncul saat menjelang perayaan hari besar keagamaan. Ini  tak lain karena menjelang perayaan hari besar tersebut aktivitas ekonomi masyarakat meningkat dan kebutuhan juga melambung. Cara pintas seringkali dilakukan oleh kelompok preman dalam mencari uang. Seperti memalak para pengunjung pasar, pedagang kaki lima, sopir angkutan umum, hingga masyarakat umum lainnya.

Faktor Ekonomi

Premanisme (berasal dari kata bahasa Belanda vrijman = orang bebas, merdeka dan isme = aliran) adalah sebutan yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain.  Faktor utama munculnya premanisme di Indonesia memang bermula pada perekonomian yang sulit dan banyaknya pengangguran di sekitar kita. Namun jika kita cermati untuk saat ini, faktor utama kemunculan premanisme adalah karena minimnya sebuah pendidikan dan kurangnya penanaman moral yang baik bagi rakyat. Sehingga hal itu menyebabkan terjadinya kemerosotan moral yang begitu memprihatinkan bangsa ini. Faktor-faktor inilah yang menjadi kunci dari munculnya tindakan premanisme.

Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane, setidaknya ada empat model preman yang ada di Indonesia, yaitu: preman yang tidak terorganisasi, preman yang memiliki pimpinan  dan mempunyai daerah kekuasaan, preman terorganisasi, dan preman berkelompok, dengan menggunakan bendera organisasi.

Pendapat lain berasal dari Azwar Hazan mengatakan, ada empat kategori preman yang hidup dan berkembang di masyarakat yaitu preman tingkat bawah, preman tingkat menengah, preman tingkat atas, dan preman elit.

Berdasarkan fenomena yang terjadi di Indonesia, yaitu penangkapan tokoh pemuda asal Maluku, John Kei, bersama mantan artis Alba Fuad, di sebuah hotel di Jakarta Timur, kembali membuka mata kita terhadap fenomena premanisme, khususnya di kota-kota besar. John diciduk karena diduga terlibat pembunuhan bos PT Sanex Steel, Tan Hari Tantono alias Ayung, pada 26 Januari 2012. Belum lagi dugaan itu dibuktikan, John dan Alba diketahui sebagai pengguna narkoba.

Dalam kasus ini, terlihat bahwa John Kei merupakan preman yang memiliki pimpinan  dan mempunyai daerah kekuasaan. Alasannya adalah John Kei merupakan pelaku yang terlibat pembunuhan dan itu merupakan suruhan dari seseorang. Sedangkan John dan Alba merupakan pengguna narkoba, mungkin ini ada hubungannya dengan gembong narkoba yang mereka kenal.

Berdasarkan jenis permanismenya, John Kei merupakan Preman tingkat menengah. Alasannya John Kei berpenampilan lebih rapi mempunyai pendidikan yang cukup dan memiliki  cara kerja yang lebih kejam. John Kei bahkan membunuh bos PT Sanex Steel, Tan Hari Tantono. Bisa disimpulkan premanismes tak bisa dipisahkan dari kejahatan atau tindak kriminalitas. Karena itu dalam penertiban premanisme di masyarakat harus dicari titik persoalannya. Pendekatan represif tak akan membuahkan hasil yang maksimal. Justru pendekatan persuasif dengan mencari akar persoalan dan solusinya menjadi pilihan terbaik dalam mengatasi persoalan premanisme  di Indonesia. ***

Related posts