Longsor Ledakkan Pipa PLTP

STAR ENERGYJABARTODAY.COM – BANDUNG — Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di kawasan Bandung Selatan. Jika pada 2010, Desa Tenjolaya, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, diterjang longsor dahsyat. Pada Senin (5/5), sekitar pukul 14.30, longsor melanda Dusun Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Pada peristiwa di Pangalengan itu, longsor menggerus sejumlah rumah warga yang berada di bawah tebing. Bahkan, kabar terakhir, sekitar 4 orang tewas dalam musibah tersebut. Bahkan, saat itu, terjadi ledakan dahsyat mengingat di lokasi longsor berdiri Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu milik Star Energy Geothermal.

Menurut Rudy Suparman, Presiden Direktur Star Energy Geothermal, ledakan itu terjadi pada pipa. “Longsor menimpa pipa. Urugan tanah longsor itu seperti menggunting pipa. Akibatnya, material uap panas langsung keluar dalam volume besar. Itu terjadi karena tekanannya begitu tinggi,” tandas Rudy, dalam siaran persnya, Selasa (6/5).

Memang, lanjutnya, pihaknya mencatat kerugian yang tergolong besar akibat bencana itu. Meski begitu, tegasnya, pihaknya punya komitmen tinggi untuk membantu para korban. Misalnya, memberikan fasilitas dan pelaksanaan evakuasi para korban.

Dilanjutkan, dalam hal bantuan, pihaknya aktif melakukan berbagai upaya pertolongan pertama bagi para penduduk. Di antaranya, sebut dia, memberi bantuan berupa tempat berkumpul dan penanganan medis. Saat ini, tim yang terdiri atas Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, instansi-instansi lainnya seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, TNI, dan Polri bersama-sama berkordinasi usaha-usaha penanggulangan pasca bencana tanah longsor tersebut.

Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menjelaskan, ledakan pipa PLTP Wayang Windu terjadi sebagai efek longsor. “Artinya, longsoran tanah menghantam pipa sehingga meledak.

“Begini saya ingin jelaskan, kejadian tersebut awalnya bukan karena pipa panas buminya, tapi karena longsor. Kalau tidak diluruskan ini dikhawatirkan akan menimbulkan keresahan masyarakat di lokasi PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi), padahal pemerintah sedang dorong pemanfaatan panas bumi untuk listrik,” jelas Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Rida Mulyana.

Saleh Abdurahman, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM, menambahkan, pihaknya menerima informasi bahwa longsoran tanah menimpa pipa panas bumi. Hal itu, jelas Saleh, membuat terjadinya pergeseran pipa. Bahkan, ucap dia, pipa tertumbun hingga terputus. “Itu membuat uap turut tertimbun. Jadi, suara ledakan itu bukan pipa minyak atau gas, melainkan dorongan uap,” katanya.

Sementara itu, Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengimbuhkan, hasil pemeriksaan menunjukkan, bahwa kemiringan lereng terjal dan tanah breksi vulkanik tergolong tebal. Pihaknya, sahut Sutopo, melihat adanya retakan dan sendatan berkedalaman sekitar 2,5 meter dan panjang sekitar 500 meter. Itu, terang dia, mengancam satu kampung yang dihuni sekitar 200 jiwa. “Selain itu, juga mengancam keberadaan pipa panas bumi sepanjang 500 meter,” tuturnya.

Untuk itu, tegas dia, pihaknya mengajukan rekomendasi kepada Star Energy supaya mengalihkan jalur pipa. Dasarnya, pergerakan tanah terus terjadi. “Kami pun imbau BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) supaya mengevakuasi penduduk,” tutup Sutopo. (ADR)

Related posts