Kenaikan Premium Penyumbang Inflasi Jabar

BPSJABARTODAY.COM – BANDUNG — Terbitnya berbagai putusan dan kebijakan, semisal perubahan harga jual bahan bakar minyak (BBM) premium, ditambah oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menyebabkan negara ini, khususnya, Jabar, mengalami inflasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, selama Maret 2015, tatar Pasundan mengalami inflasi 0,21 persen. “Angka itu berarti Indeks Harga Konsumen (IHK) naik menjadi 17,33 poin. Itu melebihi IHK Februari 2015, yang sebesar 117,08. Kondisi itu membuat laju inflasi tahun kalender 2015 year to date sejumlah minus 0,41 persen. Sedangkan laju inflasi years on year sejumlah 0,82 persen,” tandas Kepala Bidang Statistik dan Distribusi BPS Jabar, Dody Gunawan Yusuf, di Kantor BPS Jabar, Jalan PHH Mustopha Bandung, belum lama ini.

Dody mengutarakan, angka itu mengacu pada hasil survey harga di 7 kota yang menjadi titik pemantauan IHK Gabungan. Hasil tersebut menunjukkan, ungkapnya, inflasi terbesar di Kota Bogor. Besarnya, sebut dia, 0,75 persen. Lalu, kata dia, Kota Bandung sebesar 0,61 persen. “Ada pun kelompok yang berkontribusi terbesar inflasi di Jabar, yaitu kesehatan. Besarnya 0,82 persen. Sedangkan sub-kelompok tertinggi inflasinya adalah jasa kesehatan 1,49 persen,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan pemantaun harga barang dan jasa, Dody mengemukakan, periode Maret tahun ini, terjadi kenaikan pada beberapa komoditi. Kenaikan itu, tambahnya, berandil cukup signifikan dalam hal terjadinya inflasi. “Komoditi tersebut yaitu bawang merah sebesar 0,15 persen, premium sejumlah 0,14 persen, dan beras sebanyak 0,07 persen,” tutupnya.   (ADR)

Related posts