
jabartoday.com/net
“Jerman dapat menjadi pasar potensial tenun nusantara. Negara itu meminati tenun Bali, Padang, Palembang, dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” tandas Chief Executive Officer (CEO) Maxxindo, Desay Savitri Devi, pada Gelar Kain Nusantara di Nexa Hotel, Jalan Supratman, Bandung.
Desay menyatakan, cukup tingginya minat Eropa terhadap tenun, salah satunya, kemungkinan karena kondisi cuaca yang dingjn. Tidak heran, katanya, permintaan Eropa pada tenun terus meningkat. Situasi itu, lanjutnya, menjadi sebuah peluang yang sebaiknya termanfaatkan secara optimal.
Akan tetapi, sambungnya, para perajin tenun masih mendapay kendala untuk menembus pasar global, khususnya, Eropa. Di antaranya, ucapnya, para perajin ingin memperoleh fasilitas penuh untuk menggelar pameran di Benua Biru. Untuk itu, sahut dia, pihaknya berharap pemerintah lebih intens memfasilitasi para perajin kain nusantara.
Begitu pula dengan batik. Desay mengutarakan, sejauh ini, negara-negara Eropa pun meminati batik Indonesia. Sebut saja Belanda dan Belgia. Tidak hanya kedua negara itu, ada juga negara Asia yang berpotensi menjadi pasar batik, Jepang.
“Di antara sejumlah negara, sebenarnya, pasar batik terbesar adalah Jepang. Di Jepang, batik tergolong produk populer sehingga harga jualnya tinggi,” tutup Desay, seraya menambahkan, di Graha Manggala Siliwangi Bandung, Jalan. Aceh, pada 3-7 Agustus 2016, pihaknya melangsungkan Gelar Kain Nusantara, yang target transaksi mencapai Rp 20 miliar serta pengunjung 15-20 ribu orang. (ADR)




