Friday , 29 May 2020
Home » Info Jabar » Jawa Barat Siaga 1 Virus Corona, Pemprov Bentuk Crisis Center

Jawa Barat Siaga 1 Virus Corona, Pemprov Bentuk Crisis Center

Virus Corona

JABARTODAY.COM, BANDUNG — Virus Corona atau virus 2019-nCoV tengah menyergap kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China. Banyak orang meninggal dunia akibat virus yang ditengarai muncul sejak pertengahan Desember 2019 ini.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menginstruksikan seluruh kabupaten/kota di wilayahnya segera membentuk Crisis Center penanganan penyebaran virus corona.

Ridwan Kamil mengatakan, pembentukan Crisis Center sebagai upaya pemerintah dalam rangka memusatkan koordinasi dan informasi terkait Novel Corona Virus.

“Hari ini kita membuat Jabar COVID-19 Crisis Center di Command Center yang ada di gedung sebelah (masih Gedung Sate) dan ini harus dilakukan oleh seluruh kabupaten/kota di Jabar,” katanya, Selasa (3/3/2020).

“Tadi malam Kota Depok sudah membuat crisis center, maka 26 (kabupaten/kota) sisanya harus memiliki yang sama fungsinya semua informasi hanya datang dari crisis center. Jangan ada pejabat yang meminta hal-hal yang bukan kepada crisis center. Pusat keluarnya pernyataan (terkait COVID-19) harus dari institusi crisis center,” lanjutnya.

Crisis Center ini akan diketuai langsung oleh Gubernur Jabar dengan Ketua Harian Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jabar dan Sekretaris oleh Kepala Dinas Kesehatan Jabar.

Anggota Crisis Center adalah Wakil Gubernur Jabar, Ketua DPRD Jabar, Pangdam III/Siliwangi, Kepala Kepolisian Daerah Jabar, Kepala Kejaksaan Tinggi Jabar, termasuk tokoh atau elemen masyarakat dan media.

“Dan pola (keanggotaan crisis center) yang sama harus dilakukan di 27 kabupaten/kota,” katanya.

Siaga 1

Emil pun mengatakan, Provinsi Jabar sudah menetapkan kondisi Siaga 1 COVID-19. Untuk memaksimalkan upaya pencegahan dan penangananCOVID-19, Provinsi Jabar akan membeli alat-alat kesehatan yang dibutuhkan khususnya untuk fasilitas ruang isolasi bagi rumah sakit yang menjadi rujukan.

“Kami akan mengambil keputusan yang kadang-kadang tidak selalu prosedural, kalau dilama-lama prosedurnya orang keburu terpapar nantinya,” ujarnya.

Baca Juga:  Damkar Kabupaten Bandung Bakal Gelar Disinfeksi Massal

“Dan salah satunya kami akan membeli alat-alat kesehatan untuk deteksi COVID-19 karena selama ini kami harus merujuk ke (pemerintah) pusat dan lama. Sementara menggunakan (alat) yang ada, tapi Jawa Barat akan berinisiatif. Kita merujuk ke Korea Selatan yang oleh WHO dianggap sebagai negara yang penanganan COVID-19-nya yang paling baik,” katanya.

Ia juga meminta RSUD di seluruh Jabar siap dengan ruang isolasi dan ia juga meminta dinas kesehatan pemda mengecek kesiapannya.

“Saya minta minimal RSUD sudah siap, artinya sudah ada ruang isolasi. Di 27 kabupaten/kota cek ada ngga di RSUD-nya ruang isolasi. Kondisikan kalau ada RSUD yang belum punya ruang isolasi,” katanya.

Untuk pencegahan, Emil meminta masyarakat tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, warga juga diminta proaktif melaporkan diri atau apabila melihat warga lainnya mengalami gejala Covid-19, yakni demam di atas 38 derajat, flu, batuk, dan sesak napas dalam waktu bersamaan.

“Karena virus itu (Covid-19) tidak bisa bersemayam di orang yang sehat. Makanya kalau fisiknya kuat jauh dari keterpaparan,” kata Kang Emil.

Kang Emil juga meminta para Ketua RT dan RW proaktif mengingatkan warganya.

“Situasi saat ini jangan disepelekan, segera periksakan diri atau tetangganya yang mempunyai gejala batuk, demam, sesak napas dalam waktu bersamaan, sehingga proaktif kita membuat kita lebih baik,” kata dia.

Hotline COVID-19

Hotline COVID-19 Dinas Kesehatan Provinsi Jabar: 0811-2093-306 dan Emergency Kesehatan: 119.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar, Berli Hamdani, mengatakan, pihaknya sudah memiliki alur pelaporan dan penanganan Covid-19 di Jabar.

“Alur ini dibuat agar pelaporan dan penanganan Covid-19 di Jabar melalui satu pintu. Itu akan membuat penanganan lebih cepat dan tepat,” kata Berli.

Baca Juga:  Kota Bandung Tetapkan Status KLB Covid-19

Menurut Berli, masyarakat yang memiliki gejala Covid-19, seperti demam, batuk, dan sesak nafas, dan riwayat perjalanan ke negara terjangkit Covid-19 harus memeriksakan kondisi ke Puskesmas maupun rumah sakit terdekat.

“Puskesmas maupun rumah sakit yang memeriksa pasien yang memiliki gejala atau riwayat perjalanan ke luar negeri akan melapor kepada dinas kesehatan kabupaten/kota,” katanya.

Laporan tersebut akan diteruskan kepada Dinkes Jabar. Yang kemudian diteruskan kepada tim ahli Rumah Sakit Hasan Sadikin.

“Tim ahli itulah yang menentukan apakah pasien masuk kategori pengawasan atau pemantauan. Agar tindakan yang dilakukan sesuai dengan prosedur,” ucapnya.

Jika masuk kategori pemantauan, pasien dibolehkan pulang dan akan mendapatkan pantauan dari Puskesmas maupun dinkes kabupaten/kota.

“Selama 14 hari itu dipantau dan petugas puskemas maupun dinas akan datang memeriksa. Kalau terjadi kondisi semakin menurun, akan masuk ke pengawasan,” katanya.

Berli mengatakan, pasien yang masuk pengawasan akan dirawat di rumah sakit dan mendapatkan penanganan sesuai dengan gejala dan keluhan.

“Sambil dilakukan tata laksana rumah sakit dan diberi obat sesuai gejala atau keluhan, rumah sakit akan mengambil sampel. Kemudian menentukan apakah positif Covid-19 atau tidak,” ucapnya.

Nantinya, semua hasil pemeriksaan dan jumlah pasien dalam pengawasan maupun pemantauan akan dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan.

“Kami juga memiliki call centre. Masyarakat bisa menghubungi kami apabila mempunyai gejala Covid-19, riwayat perjalanan luar negeri, atau menjalin kontak dengan pasien positif Covid-19,” katanya.

“Laporan dari masyarakat akan kami teruskan ke dinas kabupaten/kota untuk mendapat penanganan. Alur seperti itu sudah sesuai dengan pedoman Kemenkes maupun WHO,” ujarnya.

Asal-Usul Virus Corona

Virus Corona ditemukan oleh sekelompok ahli, untuk pertama kalinya pada 1968. Virus ini terdeteksi terdapat pada mamalia dan juga unggas.

Baca Juga:  Pemkot Bandung Ancam Cabut Izin Mal yang Membandel

Pada sapi dan babi menyebabkan diare dan pada unggas menyebabkan penyakit pernafasan. Pada manusia, gejala mereka yang terkena virus tersebut adalah demam, wajah pucat, dan leher yang seakan tercekik karena sulitnya bernafas.

Kata Corona pertama kali diperkenalkan oleh sejumlah ahli virologi dalam sebuah artikel berjudul “Coronaviruses” pada jurnal News and Views pada 1968.

Dalam artikel tersebut virus berbentuk bulat itu disebutkan, “Banyak ditemukan pada unggas dan tikus.”

Jika merujuk pada “keluarga virus,” Corona masuk dalam subfamily Orthocoronavirinae dalam keluarga Coronoviridae.

Nama coronavirus berasal dari Bahasa latin “corona” dan Yunani “korone” yang bermakna mahkota atau lingkaran cahaya.

Penamaan nama virus corona ini tidak lepas dari wujud khas virus itu yang memiliki pinggiran permukaan yang bulat dan besar, penampilan yang mengingatkan pada “corona matahari.”

Cara paling jitu agar tidak terkena virus ini adalah tidak berinteraksi dengan mereka yang terkena virus. Untuk menghindari terkena virus ini, salah satunya, banyak-banyak minum air putih agar kerongkongan tetap basah.

Sebelum wabah virus corona, dunia juga digemparkan beberapa wabah, seperti Ebola, Zika, MERS (Middle East Respiratory Syndrome). (antara/jpnn/pikiran rakyat)