Sunday , 26 January 2020
Home » Ekonomi » Ini pun Jadi Fokus BJB demi Performa Tetap Terjaga

Ini pun Jadi Fokus BJB demi Performa Tetap Terjaga

(jabartoday.com/net)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Banyak hal dan langkah yang ditempuh korporasi guna menjaga sekaligus mendongkrak performa bisnisnya. Satu di antaranya, fokus pada lini bisnis yang menjadi produk atau program unggulan. Demikian pula demgan PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Tbk alias bank bjb.

“Yang menjadi concern dan fokus kami adalah bagaimana  pertumbuhan kredit dapat berjalan seimbang. Itu supaya kami lebih efisien dalam mengelola Asset dan Liabilities. Target kami adalah bisnis yang berkualitas,” tandas Direktur Utama bank bjb, Ahmad Irfan, pada Business Review Triwulan III 2018 di Hotel Papandayan, Jalan Gatotsubroto Bandung, belum lama ini.

Ahmad Irfan meneruskan, dalam kondisi ketidakpastian ekonomi global dan sentimen negatif  eskalasi trade war antara Amerika Serikat (AS) dan China, pihaknya sukses mencatat kinerja positif. Satu di antaranya tercermin pada penyaluran kredit.

Ahmad Irfan mengungkapkan, hingga triwulan III tahun ini, jajarannya menyalurkan kredit bernilai total Rp 74,6 triliun. Tingginya penyaluran kredit itu, lanjut dia, diimbangi oleh bank bjb terjaganya rasio Non-Performing Loans (NPL) yang berada pada level 1,58 persen.

Menurutnya, Rasio NPL ini lebih baik daripada catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ahmad Irfan mengutarakan, catatan OJK soal NPL industri perbankan menunjukkan, posisinya pada Agustus 2018 sebesar 2,74 persen.

Selain kredit, Ahmad Irfan meneruskan, hingga triwulan III 2018, pihaknya pun berhasil menaikkan Net Interest Income (pendapatan bersih bunga bank) sebesar 4,1 persen daripada periode sama 2017. “Pertumbuhan pun terjadi dalam Fee Based Income. Pertumbuhannya, sebut dia, sebesar 23,2 persen daripada triwulan 2017.

Pencapaian-pencapaian itu, tambahnya, kian lengkap karena hingga September 2018, perbankan BUMD Jabar yang kini memiliki asset Rp 114 triliun itu sukses meraup laba bersih senilai Rp 1,3 triliun. Nominal itu, jelasnya, lebih baik 25,4 persen daripada periode sama tahun lalu.

“Sedangkan dalam hal DPK (dana pihak ketiga), hingga September 2018, totalnya Rp 89,5 triliun. Sekitar 51,8 persennya merupakan Current Account Saving Account (CASA) atau dana murah, seperti tabungan dan giro. Sisanya, 48,2 persen merupakan dana mahal, yaitu deposito,” tutupnya.   (win)