Friday , 6 December 2019
Home » Ekonomi » Ini Jumlah Korban Pabrik Kembang Api yang Terima Santunan BPJS

Ini Jumlah Korban Pabrik Kembang Api yang Terima Santunan BPJS

(jabartoday.com/net)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Beberapa waktu lalu, peristiwa menghebohkan terjadi di Komplek Pergudangan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Saat itu, PT Panca Buana, pabrik kembang api meledak karena amukan si jago merah. Akibatnya, sekitar 47 orang tewas dam beberapa lainnya mengalami luka-luka cukup serius.

Sebagai lembaga bentukan negara yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja (BPJS-TK) lengsung bereaksi.

“Kami terus menghimpun data dan informasi mengenai jumlah korban yang menjadi peserta BPJS,-TK. Itu supaya kami dapat memberi pelayanan maksimal kepasa para korban,” tandas Direktur Utama BPJS TK, Agus Susanto.

Agus, yang juga menyampaikan bela sungkawa, mengemukakan, hasil penelusuran menunjukkan, sebanyak 27 orang korban musibah itu tercatat aebagai pesera BPJS TK. Sebanyak 3 orang korban tewas, kata Agus, identisasnya terindentifikasi, yaitu Naya Sunarya, Slamet Rahmat dan Iyus Hermawan. Ada pun korban luka-luka yang teridentifikasi, sambungnya, yakni Asep Mulyana. Korban, jelasnya, mendapat perawatan Rumah Sakit Trauma Center (RSTC) Ciputra Hospital Cengkareng.

Untuk korban tewas, Agus menjelaskan, pihaknya menyalurkan santunan kematian akibat kecelakaan kerja kepada para ahli waris. Nilai santunan yamg dikucurkan lembaga yang dulumya bernama PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) (Persero) ini, sebut dia, sebesar 48 kali upah terlapor.

Santunan pun, tambahnya, juga pihaknya gelontorkan bagi korban luka-luka. Bentuknya, terang Agus, pihaknya menanggung seluruh biaya perawatan sesuai kebutuhan medis. Bahkan, tegasnya, pihaknya pun bersiap memberi santunan Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB) sebesar 100 persen upah selama 6 bulan pertama kepada korban yang masih dalam proses perawatan.

Sementara itu, informasinya, indikasi kuat, PT Panca Buana, menggunakan banyak tenaga buruh harian lepas (BHL) musiman. Hal itu membuat jumlah pekerja tidak sesuai dengan data peserta yang terdaftar sebagai peserta BPJS TK. (win/*)