Sunday , 26 January 2020
Home » Headline » Ini Dia Terowongan Terpanjang di Nusantara

Ini Dia Terowongan Terpanjang di Nusantara

Kondisi terkini Terowongan terpanjang di tanah air, yang berlokasi pada jalur non-aktif Banjar-Pangandaran-Cijulang Jabar, Terowongan Wilhelmina.
(jabartoday.com/erwin adriansyah)
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Sejauh ini, sepertinya, di negara ini, masih menyimpan banyak peninggalan berupa bangunan bersejarah yang masih belum diketahui publik, baik  zaman pra-sejarah, kerajaan, maupun era kolonial Belanda dan Jepang. Di antaranya, bangunan atau peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan transportasi massal, kereta api.
Di Indonesia, termasuk Jabar, banyak terdapat bangunan bersejarah perkeretaapian. Sebagian di antaranya, masih termanfaatkan, seperti, sejumlah stasiun, yang mini menjadi heritage. Akan tetapi, banyak pula yang kondisinya mengkhawatirkan dan perlu mendapat perhatian serius.
Beberapa bangunan bersejarah yang berada di Jabar antara lain berlokasi pada jalur yang sudah lama non-aktif, seperti Bandung-Banjaran-Ciwidey, Tanjungsari-Jatinangor, dan Banjar-Pangandaran-Cijulang. Pada jalur-jalur itu, sebenarnya, menyimpan banyak hal yang belum diketahui publik.
Sebagai contoh, mungkin masyarakat di negara ini belum mengetahui bahwa Jabar memiliki terowongan kereta terpanjang di tanah air. Terowongan itu adalah Terowongan Wilhelmina alias Terowongan Sumber. “Terowongan ini terbangun pada era Hindia Belanda, sekitar awal abad 20, yaitu permulaan 1900-an,” tandas Aditya Dwilaksana, founder Kereta Anak Bangsa.
Dikatakan, terowongan ini menjadi yang terpanjang di tanah air karena memiliki panjang 1.116 meter atau 1,116 kilometer. Terowongan Wilhelmina, lanjutnya, merupakan satu di antara 4 terowongan pada jalur Banjar-Pangandaran-Cijulang, tang sudah lama tidak aktif. Tiga terowongan lainnya, tuturnya, yaitu pertama, Terowongan Philip, yang memiliki tiga nama lain, yakni Jatilawang, Lagak, dan Sentiong, yang panjangnya 281 meter.
Kedua, imbuhnya, Terowongan Hendrik alias Terowongan Pamotan sepanjang 105 meter. Ketiga, sebutnya, yaitu Terowongan Juliana atau Terowongan Bengkok, yang memiliki panjang 147 meter. Sayangnya, kini, terowongan-terowongan tersebut terbengkalai. Kondisinya dipenuhi beragam tumbuh-tumbuhan ilalang, kotor, dan gelap. Sederhananya, tidak terperhatikan. Padahal, itu semua merupakan bukti peninggalan sejarah yang idealnya harus dilestarikan.
Selain terowongan, jalur non-aktif Banjar-Pangandaran-Cijulang pun memiliki 6 jembatan panjang, yang kondisinya pun terbengkalai dan kurang terperhatikan. Yang terpanjang, beber Aditya, yaitu Jembatan Cililitan. Panjangnya 290 meter.
Kemudian, Jembatan Cipambokongan sepanjang 244 meter. Lalu, kata Aditya, Jembatan Cikabuyutan sepanjang 164 meter. Selanjutnya, seru dia, Jembatan Cikarampa sejauh 160 meter. Berikutnya, ucapnya, Jembatan Cipanerekean baja sepanjang 150 meter, dan terakhir Jembatan Cipanerekean beton sepanjang 95 meter.
“Harapannya, pemerintah melakukan berbagai upaya terhadap keberadaan cagar-cagar budaya, termasuk berbagai bangunan bersejarah, seperti jembatan dan terowongan kereta peninggalan Hindia Belanda, agar generasi mendatang lebih memahami betapa kaya dan besarnya bangsa ini,” tutupnya.  (win)