Saturday , 6 June 2020
Home » Bandung Raya » Hibah Guru Formal Terganjal Duplikasi

Hibah Guru Formal Terganjal Duplikasi

Aksi unjuk rasa para guru agama, di Gedung DPRD Kota Bandung, Senin (5/12). (jabartoday/eddy koesman)
Aksi unjuk rasa para guru agama, di Gedung DPRD Kota Bandung, Senin (5/12). (jabartoday/eddy koesman)

JABARTODAY.COM – BANDUNG Ketua Forum Komunikasi Guru Honorer Kota Bandung Yanyan Herdiyan mengatakan, hak tunjangan guru formal yang merangkap sebagai guru agama atau guru ngaji, terancam pupus. Pasalnya, rekening guru formal yang dimanfaatkan guna menerima transfer honor guru agama dari Kementerian Agama Kota Bandung, tidak bisa lagi digunakan untuk menerima transfer dana hibah guru honorer, yang dikelola PGRI.

“Niat baik, jadi petaka untuk guru honorer formal, apalagi kini tidak ada organisasi guru yang melirik mereka. Organisasinya pada tiarap, takut dikriminalisasi,” kata Yanyan, di sela aksi unjuk rasa puluhan guru ngaji di Gedung Parlemen, Senin (5/12).

Yanyan menjelaskan, dana hibah guru honorer tahun 2016 dari Pemerintah Kota Bandung, tidak kurang dari Rp 3 juta. Namun, lantaran nama guru honorer yang merangkap guru mengaji dihapus dari daftar calon penerima hibah Pemkot Bandung, maka muncul rasa ketidakadilan. “Di Perwal tidak ada larangan guru honorer mendapat hibah dari dua Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD). Tetapi, Inspektorat, Kandepag bersama PGRI menolak kerena dianggap duplikasi,” tukas Yanyan.

Guru formal yang jadi guru agama di madrasah, setiap tahun dapat Rp 1,2 juta. Tetapi, uangnya dibagi-bagikan kepada teman-temannya. “Dengan meminjamkan rekening ke lembaga pengajian, sebelumnya aman-aman saja. Tetapi, dengan ditetapkan PGRI, tahun ini sebagai pengelola hibah dan FAGI ribut, nama guru honorer yang mengajar mengaji jadi dihapuskan,” sahut Yanyan.

Hal senada dilontarkan guru RA. Nursakinah, Ema. Perwal tidak melarang aturan dua NPHD yang berbeda. “Kita minta hak kita dicairkan. Itu mah tunjangan, tetapi kenapa nggak cair. Tidak lebih dari itu saja tuntutan kami,” ujar Ema, yang sudah 13 tahun menjadi guru agama. (koe)