Thursday , 21 November 2019
Home » Opini » Hari-hari Mencekam (3)

Hari-hari Mencekam (3)

Oleh Komaruddin Rachmat

Baba Muram dan Danapi sepertinya ditugaskan untuk menjaga kami, karena kerap berada di sekitar kami.

Sejatinya selalu berada di rumah  menyiksa bagi saya dan teman-teman, karena kami adalah anak-anak nakal kampung ketika itu. Kami melakukan apa yang kami mau.

Kamar saya memiliki jendela yang memiliki akses keluar. Ayah saya menyangka saya sudah tidur padahal saya sudah menyelinap keluar bergabung dengan teman teman, nonton layar tancap , Lenong, topeng. Terkadang jauh sampai keluar dari kampung kami dan baru pulang larut malam menjelang subuh.

Seperti dimaklumi ketika itu  penduduk kampung yg mampu  bila menikahkan anaknya  mengadakan pesta bisa tiga hari tiga malam berturut-turut. Misalnya, malam pertama pertunjukan layar tancap, malam kedua lenong, malam ketiga orkes (sekarang dangdut) atau topeng.

Di sekitar tontonan  itulah saya merasa kehidupan yang sangat sekuler dalam sudut pandang saya hari ini, karena jauh dari nilai-nilai agama.

Di sekitar tontonan banyak di buka lapak-lapak judi koprok dan sintir dimana kami juga terkadang ikut bermain dengan memasang diam-diam diantara penjudi yang berdiri melingkari meja judi.

Ketika nonton lenong saya sering terdorong ke kolong panggung dan secara tidak sengaja menyaksikan seks bebas yang dilakukan artis/panjak lenong tersebut dengan orang yang saya tidak kenal.

Di area tontonan itulah umumnya anggota-anggota PKI berkumpul, saya sering melihat mereka kongkow-kongkow di tempat gelap di antara rerimbunan pohon. Di antara mereka ada beberapa yang saya kenal baik, karena masih terkait kerabat.

Komunitas kesenian rakyat itulah yg mereka bina sebagai kader atau hanya sebagai simpatisan. Kader-kader PKI berbeda dari rakyat lainnya menurut sudut pandang saya  hari ini, tingkat intelektual mereka tinggi, ngobrol dengan bahasa melayu tinggi.

Malam 30 September 1965 tidak ada yang berubah dari sebelumnya. Kami tetap bermain dan ayah tetap berkumpul dengan teman-temannya ngobrol-ngobrol. Hanya kesokan harinya suasana menjadi tegang ketika jam 6 pagi RRI diduduki Cakrabirawa atas perintah Letnan Kolonel Untung.

Ayah saya mendengarkan radio dengan sangat serius. Ketegangan terlihat tampak di wajah ayah saya. Satu-satu teman ayah saya datang dan keliatan seharian mereka berada dekat radio karena ketika sore hari saya pulang ayah masih dekat radio.

Baru malam harinya suasana menjadi cair yaitu setelah berita di RRI menyatakan bahwa RRI telah diambil alih oleh RPKAD.

Ketegangan bukan hanya dikalangan orang-orang tua. Anak-anak pun ikut tegang. Karena kami mendapat suasana tegang di rumah masing-masing dan kemudian kami saling bercerita dengan gaya sok tau.

Saya lupa-lupa ingat, waktu itu mungkin sekitar jam 8 pagi, ketika saya keluar rumah untuk  bermain,  di samping rumah saya ada beberapa anggota pemuda rakyat/PKI sekitar 5 atau 6  sedang jongkok-jongkok.

Ketika itu saya menganggap hal itu sebagai  suatu yang  biasa saja. Hanya setelah saya kemudian  menjadi aktifis mahasiswa, baru saya sadari betapa bahayanya ayah saya ketika itu.

Karena cerita-cerita yang saya dengar berikutnya dari orang-orang tua di kampung bahwa perencanaan pembunuhan terhadap orang atau tokoh anti PKI telah direncanakan dengan matang oleh PKI yaitu dengan telah disiapkan lobang-lobang penguburan.

Ketika saya pulang sore hari itu anak-anak muda itu sudah tidak ada lagi batang hidungnya. Hanya saja saya besoknya atau kapan,saya lupa.  Beberapa anggota pemuda rakyat yang saya kenal hilir mudik di samping rumah saya. Belakangan setelah dewasa saya menduga mereka panik seperti tidak memiliki pegangan.

Hari-hari berikutnya seorang di antara mereka ada yang terlihat seperti orang stress. Jalan kesana kemari dengan muka tegang. Sering kali kami berpapasan dan saling menyapa, karena memang masih terkait kerabat.

Setelah peristiwa G 30 S/PKI suasana desa saya serasa sepi, berjalan kembali  normal, berbeda dengan sebelumnya yang terlihat ada aktifitas anggota-anggota pemuda rakyat yang sering hilir mudik lewat samping rumah di mana saya sering berpapasan ketika akan main kerumah teman. Saya mengetahui mereka adalah  pemuda rakyat, karena mendengar ayah saya dan teman-temannya membicarakan mereka. (bersambung)