Elpiji Naik, Perajin Tahu Pilih Gunakan Kayu Bakar

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG –– Perekonomian di negara ini mengalami hantaman luar biasa. Itu terjadi karena beberapa hal. Hantaman terkini yaitu terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Efeknya, sejumlah komoditi meninggi. Itu karena beberapa sektor masih bergantung pada impor.

Meski demikian, ternyata, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut belum menjadi pemicu naiknya harga jual kedelai. Akan tetapi, para pelaku usaha dan perajin yang berbahan baku kedelai, yaitu tahu, justru kebingungan. Itu terjadi karena melejitnya harga jual epiji 12 kilogram, yang kini, rata-rata senilai Rp 140.000-150.000 per tabung. Mahalnya harga jual komoditi tersebut menyebabkan menyusutnya keuntungan para perajin.

Menurut Romlah, perajin tahu Kampung Pangkalan, Desa Tarajusari, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, biaya operasional, khususunya, untuk pemenuhan kebutuhan eloji, naik dua kali. Pertama, ketika elpiji 12 kilogram naik menjadi Rp 115.000-120.000 per tabung. Kemudian, kembali melejit menjadi Rp 140 ribu per tabung pada September 2014. Terjadinya kenaikan harga jual elpiji selama beberapa kali itu memaksa wanita berusia 47 tahun itu memilih sumber energi alternatif supaya bisnisnya tetap bergulir. “Sejak awal tahun ini, saya, dan mungkin, banyak perajin tahu lainnya, menggunakan kayu bakar untuk merebus kedelai,” ungkapnya.

Opsi memilih kayu bakar, jelas Romlah, karena untuk merebus kedelai, pihaknya butuh 10-12 tabung elpiji 12 kilogram setiap harinya. Artinya, jelas dia, dalam satu hari, pihaknya butuh dana besar untuk perebusan, yaitu sekitar Rp 42 juta per bulan.

Karenanya, untuk menghemat, pasca kenaikan elpiji pada awal tahun ini, Romlah hanya memakai komoditi tersebut untuk proses penggorengan tahu. Pihaknya, kata Romlah, yang memerlukan 3 tabung elpjji 12 kilogram dalam proses penggorengan, tetap menggunakannya karena panas yang dihasilkan kayu bakar tidak cukup sehingga hasilnya kualitasnya kurang baik.

Peralihan penggunaan elpiji 12 kilogram menjadi kayu bakar pun, tambahnya, bukan tanpa dampak. Efek peralihannya, ungkap dia, harga jual kayu bakar dan serbuk gergaji pun melejit 100 persen lebih. Semula, sebut dia, harganya sekitar Rp 2.000 per karung. Kini, imbuhnya, menjadi Rp 4.000-5.000 per karung.

Walau demikian, Romlah masih bisa tersenyum. Pasalnya, jelas dia, pemanfaatan kayu bakar dan serbuk gergaji masih lebih efisien daripada elpiji 12 kilogram. Setiap harinya, ucap Romlah, pihaknya memerlukan 60 karung serbuk gergaji, yang harganya Rp 240.000. Itu membuat Romlah menghemat puluhan juta rupiah.

Beralihnya penggunaan elpiji 12 kilogram menjadi kayu bakar diamini Heni. Perajin tahu berusia 35 tahun asal Desa Kamasan, ini juga punya kebergantungan pada kayu bakar dan serbuk gergaji yang kian tinggi. Saya kira, sangat berat kalau menggunakan elpiji mengingat harganya yang mahal. Jika kami tetap menggunakan elpiji, bisa-bisa bangkrut,” lirihnya.

Heni berharap situasi ini tidak berlangsung lama. Harapan lainnya, cetus dia, harga jual kedelai, yang saat ini Rp 7.500 per kilogram, tidak mahal seperti tahun sebelumnya. Namun, apabila memperhatikan pelemahan rupiah terhadap dolar AS, Heni tetap mengkhawatirkan terjadinya kenaikan harga jual kedelai.  (ADR)

Related posts